Pertanyaan ini sangat umum dan wajar, karena mencampur dua
bahan sekaligus bisa menghemat waktu dan tenaga. Tapi, tahukah kamu? Tidak
semua campuran itu cocok.
Beberapa bisa saling membantu, tapi ada juga yang justru saling menetralkan, bahkan merusak daun tanaman.
Kenapa Petani Suka Mencampur Fungisida dan Pupuk?
Beberapa alasan umum di lapangan antara lain:
- Ingin menghemat waktu dan biaya penyemprotan.
- Ingin tanaman cepat segar sekaligus terlindungi dari jamur.
- Ingin mengurangi frekuensi penyemprotan di musim sibuk.
Namun, setiap fungisida punya bahan aktif dan tingkat keasaman (pH) berbeda. Begitu juga pupuk daun yang mengandung unsur hara seperti nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), serta mikronutrien (Fe, Zn, B).Kalau dicampur tanpa uji dulu, bisa terjadi reaksi kimia yang membuat salah satu bahan rusak.
Tanda-Tanda Campuran Tidak Cocok di Lapangan
Beberapa gejala yang sering terlihat jika campuran fungisida
dan pupuk tidak kompatibel antara lain:
- Larutan semprot keruh, menggumpal, atau berbusa berlebihan.
- Daun tanaman menguning, gosong, atau seperti terbakar setelah penyemprotan.
- Efektivitas fungisida menurun, jamur tetap muncul meski sudah disemprot.
- Ada endapan putih atau kristal di dasar tangki semprot.
Kalau tanda-tanda ini muncul, itu artinya campuran kamu
tidak cocok dan sebaiknya tidak digunakan lagi.
Dampak Buruk Jika Salah Campur
Campuran yang tidak tepat bisa menyebabkan:
- Daun rusak dan fotosintesis terganggu.
- Serapan pupuk berkurang, tanaman jadi tidak segar.
- Fungisida tidak bekerja optimal, jamur seperti Phytophthora atau Rhizoctonia tetap menyerang.
- Dalam jangka panjang, jamur bisa menjadi resisten terhadap obat tersebut.
Hasilnya? Panen menurun dan tanaman jadi lebih rentan
penyakit.
Alternatif Alami / Hayati (Biological Control)
Kalau ingin mengurangi penggunaan bahan kimia, petani bisa
beralih ke cara hayati.
Misalnya:
- Gunakan Trichoderma spp. atau Bacillus subtilis, dua mikroorganisme baik yang bisa melawan jamur patogen di tanah.
- Kombinasikan dengan pupuk organik cair (POC) atau pupuk hayati.
Menurut penelitian Balitbangtan (2022), kombinasi Trichoderma + pupuk organik
bisa meningkatkan ketahanan tanaman padi terhadap penyakit blas hingga 40% lebih baik
dibanding tanpa perlakuan.
Namun ingat, bahan hayati tidak dicampur langsung dengan
fungisida kimia. Gunakan secara bergantian, dengan jeda waktu beberapa hari.
Pengendalian Mekanis / Budidaya (Cultural Control)
Selain campuran bahan kimia, langkah budidaya juga penting:
- Gunakan pupuk berimbang agar tanaman kuat.
- Pastikan lahan tidak terlalu lembap supaya jamur tidak berkembang.
- Lakukan rotasi tanaman dan pembersihan gulma.
- Jika ingin menyemprot dua bahan berbeda, beri jeda 3–5 hari agar aman.
Pengendalian Kimia (Chemical Control)
Beberapa kombinasi fungisida dan pupuk yang sudah diuji aman (kompatibel) oleh Balitbangtan, IPB, dan UGM adalah:
Catatan penting:
Sebelum dicampur dalam tangki besar, lakukan “uji botol”
sederhana:
1. Campurkan sedikit dari kedua bahan (sekitar 50 ml).
2. Aduk dan diamkan 15–20 menit.
3. Jika tidak menggumpal atau berubah warna, berarti cukup
aman.
Kalau ada endapan atau busa tebal — jangan digunakan!
Pencegahan dan Tips Lapangan
Agar aman dan efektif, perhatikan hal berikut:
- Gunakan air bersih dengan pH netral (6–7).
- Jangan campur lebih dari dua bahan dalam satu tangki.
- Urutan pencampuran yang benar:
1. Isi tangki setengah air.
2. Masukkan pupuk cair.
3. Masukkan fungisida terakhir sambil diaduk.
- Baca label kemasan. Beberapa produk mencantumkan “tidak boleh dicampur dengan pupuk”.
- Gunakan alat semprot yang bersih, jangan ada sisa pestisida lama.
Kesimpulan Praktis untuk Petani
Jadi, apakah fungisida bisa dicampur dengan pupuk?
Jawabannya: bisa, tapi tidak semua cocok.
Campuran yang tepat bisa menghemat waktu dan meningkatkan
hasil, tapi yang salah bisa bikin daun gosong dan obat tidak bekerja.
Langkah terbaik:
- Baca label produk.
- Lakukan uji botol.
- Semprot terpisah jika tidak yakin kompatibel.
Dengan cara ini, petani bisa tetap efisien tanpa
mengorbankan kesehatan tanaman
Kata Ahli
Menurut Dr. Sri Yuliani (Balitbangtan, 2022):
Pencampuran fungisida dan pupuk memang bisa menghemat
tenaga, tapi sangat tergantung bahan aktifnya. Jika pH larutan tidak sesuai,
efeknya bisa negatif — baik bagi tanaman maupun daya kerja fungisida itu
sendiri.
%20Apakah%20Fungisida%20Bisa%20Dicampur%20dengan%20Pupuk,%20Ini%20Penjelasan%20Lengkapnya.jpg)
EmoticonEmoticon