Apakah Fungisida Bisa Dicampur dengan Pupuk? Ini Penjelasan Lengkapnya!

Gambar ilustrasi petani sedang mencampur fungisida dan pupuk di lahan pertanian dengan alat semprot, menggambarkan cara aplikasi yang aman dan efisien menurut panduan Kementerian Pertanian.
Banyak petani bertanya, “Boleh nggak sih fungisida dicampur dengan pupuk daun biar sekalian nyemprot?”

Pertanyaan ini sangat umum dan wajar, karena mencampur dua bahan sekaligus bisa menghemat waktu dan tenaga. Tapi, tahukah kamu? Tidak semua campuran itu cocok.

Beberapa bisa saling membantu, tapi ada juga yang justru saling menetralkan, bahkan merusak daun tanaman.

Menurut penelitian dari Balitbangtan Kementerian Pertanian, serta beberapa studi dari IPB dan UGM, pencampuran fungisida dengan pupuk daun harus dilihat dari tingkat kompatibilitasnya — apakah bahan aktif kedua produk bisa bersatu tanpa menimbulkan reaksi negatif.


Kenapa Petani Suka Mencampur Fungisida dan Pupuk?

Beberapa alasan umum di lapangan antara lain:

  • Ingin menghemat waktu dan biaya penyemprotan.
  • Ingin tanaman cepat segar sekaligus terlindungi dari jamur.
  • Ingin mengurangi frekuensi penyemprotan di musim sibuk.

Namun, setiap fungisida punya bahan aktif dan tingkat keasaman (pH) berbeda. Begitu juga pupuk daun yang mengandung unsur hara seperti nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), serta mikronutrien (Fe, Zn, B).Kalau dicampur tanpa uji dulu, bisa terjadi reaksi kimia yang membuat salah satu bahan rusak.


Tanda-Tanda Campuran Tidak Cocok di Lapangan

Beberapa gejala yang sering terlihat jika campuran fungisida dan pupuk tidak kompatibel antara lain:

  • Larutan semprot keruh, menggumpal, atau berbusa berlebihan.
  • Daun tanaman menguning, gosong, atau seperti terbakar setelah penyemprotan.
  • Efektivitas fungisida menurun, jamur tetap muncul meski sudah disemprot.
  • Ada endapan putih atau kristal di dasar tangki semprot.

Kalau tanda-tanda ini muncul, itu artinya campuran kamu tidak cocok dan sebaiknya tidak digunakan lagi.


Dampak Buruk Jika Salah Campur

Campuran yang tidak tepat bisa menyebabkan:

  • Daun rusak dan fotosintesis terganggu.
  • Serapan pupuk berkurang, tanaman jadi tidak segar.
  • Fungisida tidak bekerja optimal, jamur seperti Phytophthora atau Rhizoctonia tetap menyerang.
  • Dalam jangka panjang, jamur bisa menjadi resisten terhadap obat tersebut.

Hasilnya? Panen menurun dan tanaman jadi lebih rentan penyakit.


Alternatif Alami / Hayati (Biological Control)

Kalau ingin mengurangi penggunaan bahan kimia, petani bisa beralih ke cara hayati.

Misalnya:

  • Gunakan Trichoderma spp. atau Bacillus subtilis, dua mikroorganisme baik yang bisa melawan jamur patogen di tanah.
  • Kombinasikan dengan pupuk organik cair (POC) atau pupuk hayati.

Menurut penelitian Balitbangtan (2022), kombinasi Trichoderma + pupuk organik bisa meningkatkan ketahanan tanaman padi terhadap penyakit blas hingga 40% lebih baik dibanding tanpa perlakuan.

Namun ingat, bahan hayati tidak dicampur langsung dengan fungisida kimia. Gunakan secara bergantian, dengan jeda waktu beberapa hari.


Pengendalian Mekanis / Budidaya (Cultural Control)

Selain campuran bahan kimia, langkah budidaya juga penting:

  • Gunakan pupuk berimbang agar tanaman kuat.
  • Pastikan lahan tidak terlalu lembap supaya jamur tidak berkembang.
  • Lakukan rotasi tanaman dan pembersihan gulma.
  • Jika ingin menyemprot dua bahan berbeda, beri jeda 3–5 hari agar aman.


Pengendalian Kimia (Chemical Control)

Beberapa kombinasi fungisida dan pupuk yang sudah diuji aman (kompatibel) oleh Balitbangtan, IPB, dan UGM adalah:

Fungisida (Bahan Aktif)Jenis Pupuk yang Bisa DicampurKeterangan / Sumber
Mancozeb (dithiocarbamate)Pupuk daun NPK cair (pH netral)Balitbangtan 2021 – hasil stabil, tidak menggumpal
PropinebPupuk mikro (Zn, Fe, Mn)Kompatibel untuk sayuran daun – UGM 2020
DifenokonazolPupuk daun berbasis ureaAman jika pH larutan 6–7 – IPB 2019
Tebuconazole + MancozebPupuk KNO₃ atau CaNO₃Kompatibel untuk cabai dan tomat – Balitsa 2022
Copper oxychloride (Cu)Tidak disarankan dengan pupuk fosfor tinggiBisa menyebabkan daun terbakar

Catatan penting:

Sebelum dicampur dalam tangki besar, lakukan “uji botol” sederhana:

1. Campurkan sedikit dari kedua bahan (sekitar 50 ml).

2. Aduk dan diamkan 15–20 menit.

3. Jika tidak menggumpal atau berubah warna, berarti cukup aman.

Kalau ada endapan atau busa tebal — jangan digunakan!


Pencegahan dan Tips Lapangan

Agar aman dan efektif, perhatikan hal berikut:

  • Gunakan air bersih dengan pH netral (6–7).
  • Jangan campur lebih dari dua bahan dalam satu tangki.
  • Urutan pencampuran yang benar:

1. Isi tangki setengah air.

2. Masukkan pupuk cair.

3. Masukkan fungisida terakhir sambil diaduk.

  • Baca label kemasan. Beberapa produk mencantumkan “tidak boleh dicampur dengan pupuk”.
  • Gunakan alat semprot yang bersih, jangan ada sisa pestisida lama.


Kesimpulan Praktis untuk Petani

Jadi, apakah fungisida bisa dicampur dengan pupuk?

Jawabannya: bisa, tapi tidak semua cocok.

Campuran yang tepat bisa menghemat waktu dan meningkatkan hasil, tapi yang salah bisa bikin daun gosong dan obat tidak bekerja.

Langkah terbaik:

  • Baca label produk.
  • Lakukan uji botol.
  • Semprot terpisah jika tidak yakin kompatibel.

Dengan cara ini, petani bisa tetap efisien tanpa mengorbankan kesehatan tanaman

Kata Ahli

Menurut Dr. Sri Yuliani (Balitbangtan, 2022):

Pencampuran fungisida dan pupuk memang bisa menghemat tenaga, tapi sangat tergantung bahan aktifnya. Jika pH larutan tidak sesuai, efeknya bisa negatif — baik bagi tanaman maupun daya kerja fungisida itu sendiri.


November 04, 2025


EmoticonEmoticon