Masalahnya, rumput ini tumbuh cepat, susah dibasmi, dan bisa
menurunkan hasil panen hingga 30–40% kalau
dibiarkan (FST ULB, 2022).
Artikel ini akan membahas dengan bahasa ringan dan praktis
bagaimana cara mengatasi rumput jajagoan tanpa merusak tanaman padi,
berdasarkan penelitian dari Balitbangtan, Unpad, IPB, dan
IRRI.
Apa Itu Rumput Jajagoan?
Secara ilmiah, rumput jajagoan dikenal dengan nama Echinochloa crus-galli atau barnyardgrass.
Gulma ini sangat mirip tanaman padi,
terutama saat masih muda, sehingga sering “nyaru” di lahan sawah.
Ciri-ciri rumput jajagoan:
- Tumbuh cepat di sawah basah maupun kering.
- Daunnya lebar dan mirip padi muda.
- Batangnya agak tegak, tapi lebih kaku dibanding batang padi.
- Menghasilkan biji sangat banyak (ribuan per tanaman).
- Mampu tumbuh kembali dari sisa biji di tanah musim berikutnya.
Menurut penelitian IRRI (International Rice
Research Institute), jajagoan termasuk gulma paling kompetitif di lahan padi Asia
Tenggara karena daya adaptasinya tinggi dan cepat berbiji.
Mengapa Rumput Jajagoan Sulit Diberantas
Banyak petani mengeluh, “sudah disiangi, muncul lagi.”
Itu karena jajagoan punya beberapa keunggulan alami:
1. Biji tahan lama di tanah.
Menurut penelitian FST ULB (2022),
bijinya bisa bertahan dorman lebih dari satu tahun dan tumbuh lagi saat kondisi
cocok.
2. Tipe fotosintesis C4.
Artinya, jajagoan bisa memanfaatkan sinar matahari lebih
efisien dibanding padi (yang tipe C3). Jadi, makin panas, makin cepat tumbuh.
3. Resisten terhadap herbisida tertentu.
Penelitian Universitas Padjadjaran
(2024) menemukan bahwa beberapa populasi jajagoan sudah resisten terhadap herbisida bispyribac-sodium,
yang biasa digunakan petani padi.
4. Mirip padi.
Karena bentuknya hampir sama, sering kali rumput ini baru
disadari saat sudah besar dan sulit dicabut.
Dampak Rumput Jajagoan bagi Tanaman Padi
Dari luar, kelihatannya sepele, tapi dampaknya bisa besar:
- Turunkan hasil panen hingga 30–46%.
(Data: FST ULB 2022; UIN Suska 2023)
- Kurangi anakan produktif dan panjang malai.
Tanaman padi kekurangan unsur hara dan cahaya karena kalah saing dengan rumput.
- Tambah biaya produksi.
Petani harus menambah tenaga kerja untuk penyiangan atau beli herbisida.
Waktu yang Tepat untuk Mengendalikan Rumput Jajagoan
Waktu adalah kunci. Berdasarkan rekomendasi Balitbangtan, lakukan
pengendalian:
- Sebelum tanam → bersihkan lahan dari gulma dan sisa benih.
- 7–21 hari setelah tanam (HST) → saat padi masih muda dan gulma mulai tumbuh.
- Menjelang padi menutup lahan (30–40 HST) → untuk mencegah jajagoan tumbuh di sela-sela rumpun.
Prinsipnya: jangan tunggu rumput besar,
karena padi sudah kalah cepat.
Cara Mengatasi Rumput Jajagoan Tanpa Merusak Tanaman Padi
Ada tiga pendekatan utama: manual,
kimia selektif, dan biologis ramah lingkungan.
A. Cara Manual (Tanpa Bahan Kimia)
Cara ini paling aman untuk padi dan lingkungan, cocok untuk
petani kecil atau sistem organik.
Langkah-langkah:
1. Penyiangan dini (14–21 HST).
Cabut rumput saat masih kecil dan belum berbiji.
2. Gunakan alat sederhana
Gasrok atau landak sawah untuk mempercepat kerja.
3. Atur tinggi air.
Pembanjiran sawah setinggi 5–10 cm bisa menghambat
pertumbuhan jajagoan (data FAO).
4. Tanam rapat sistem jajar legowo.
Semakin cepat kanopi padi menutup, semakin sedikit cahaya
untuk rumput tumbuh.
Tips: Penyiangan
dua kali (umur 14 HST dan 30 HST) terbukti paling efektif menurut Balai
Penelitian Tanaman Pangan Sukamandi (Balitbangtan).
B. Cara Kimia (Herbisida Selektif)
Kalau serangan parah, herbisida bisa dipakai dengan hati-hati dan dosis tepat.
- Pilih herbisida selektif yang aman untuk padi tapi mematikan rumput jajagoan.
Contoh bahan aktif (sesuai Balitbangtan):
- Penoxsulam,
- Cyhalofop-butyl,
- atau Bispyribac-sodium (hati-hati karena beberapa wilayah sudah resisten).
- Gunakan tepat waktu:
- Aplikasi pertama: 7–14 HST (gulma masih kecil).
- Aplikasi ulang: bila masih ada sisa rumput 2–3 minggu kemudian.
Peringatan:
jangan gunakan herbisida berlebihan. Selain merusak biota tanah, bisa bikin
rumput makin kebal di musim berikutnya (data Unpad 2024).
C. Cara Biologis dan Ramah Lingkungan
Beberapa penelitian menunjukkan pendekatan alami juga
efektif.
1. Gunakan varietas padi kompetitif.
Contoh: beberapa genotipe lokal di Riau mampu menekan
pertumbuhan akar dan tunas jajagoan hingga 40% (UIN Suska, 2023).
2. Manfaatkan tanaman alelopati.
Menurut penelitian Universitas Sebelas Maret
(2022), ekstrak daun Mikania micrantha
mengandung senyawa alami yang bisa menekan pertumbuhan gulma jajagoan.
3. Rotasi tanaman.
Ganti padi dengan palawija (misal jagung atau kedelai)
setahun sekali.
Rotasi memutus siklus hidup biji gulma di tanah.
4. Sistem pengairan bergilir (alternate wetting and drying).
Menurut FAO (2020), sistem ini bisa menekan pertumbuhan
gulma air seperti jajagoan dan sekaligus hemat air.
Pencegahan Agar Rumput Jajagoan Tidak Muncul Lagi
Langkah pencegahan jauh lebih hemat waktu dan biaya daripada
mengendalikan ulang.
1. Sebelum tanam:
- Bajak dan ratakan sawah sampai bersih dari sisa gulma.
- Jika ada infestasi berat, gunakan solarisasi (menutup tanah dengan plastik transparan 1–2 minggu untuk mematikan biji gulma).
2. Saat tanam:
- Gunakan bibit sehat dan jarak tanam ideal (20 × 20 cm sistem legowo).
- Pastikan lahan tidak terlalu kering saat benih mulai tumbuh.
3. Setelah panen:
- Jangan biarkan biji gulma jatuh ke lahan.
- Bersihkan sisa tanaman, terutama batang jajagoan yang masih ada bijinya.
Tanda-Tanda Pengendalian Jajagoan Berhasil
Kalau usaha Anda berhasil, akan terlihat tanda-tanda ini:
- Populasi rumput jauh berkurang dari musim sebelumnya.
- Tanaman padi tumbuh subur, warna daun hijau segar, dan banyak anakan produktif.
- Hasil panen meningkat, dan tenaga kerja penyiangan lebih sedikit.
- Gulma yang muncul mudah dicabut karena tidak sempat besar.
Kesalahan Umum Petani Saat Mengendalikan Jajagoan
Berdasarkan pengamatan Balitbangtan dan IRRI, berikut
kesalahan yang sering dilakukan petani:
- Menunda penyiangan sampai rumput besar.
- Menggunakan herbisida terus-menerus tanpa rotasi bahan aktif.
- Tidak mengatur tinggi air.
- Menganggap rumput mirip padi sebagai tanaman padi muda.
- Tidak membersihkan sisa biji gulma setelah panen.
Hindari kesalahan itu agar pengendalian lebih efisien dan
ramah lingkungan.
Kesimpulan
Rumput jajagoan (Echinochloa
crus-galli) adalah gulma bandel yang bisa menurunkan hasil padi
hingga 40%.
Namun, dengan pengendalian sejak dini,
kombinasi metode manual, kimia selektif, dan
biologis, serta pencegahan berkelanjutan,
petani bisa mengatasinya tanpa merusak tanaman padi.
Kuncinya adalah:
Cepat bertindak, rotasi cara, dan jaga kesehatan lahan.
Dengan langkah ini, sawah Anda bisa bebas jajagoan dan hasil
panen makin melimpah.

EmoticonEmoticon