Cara Mengatasi Sundep di Tanaman Padi Secara Efektif dan Aman

Gambar ilustrasi larva penggerek batang padi berwarna krem dengan kepala cokelat, terlihat masuk ke dalam batang padi dan meninggalkan bekas lubang, menggambarkan gejala serangan hama yang menyebabkan sundep atau beluk pada tanaman padi.
Pernah melihat tanaman padi di sawah tiba-tiba layu, pucuknya mati, atau anakan utamanya mengering padahal pupuk sudah cukup?

Hati-hati, bisa jadi itu gejala sundep, salah satu gangguan serius pada tanaman padi yang sering bikin petani panik karena bisa menurunkan hasil panen secara drastis.

Menurut Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitbangtan), serangan sundep dapat mengurangi hasil hingga 20–29% tergantung tingkat serangannya. Untungnya, sundep bisa dikendalikan — asalkan kita tahu penyebab, gejala, dan cara mengatasinya dengan benar. Yuk, kita bahas tuntas!


Apa Itu Sundep pada Tanaman Padi?

Sundep adalah istilah lokal untuk kondisi matinya titik tumbuh tanaman padi karena serangan larva penggerek batang padi.

Dalam bahasa ilmiah, kondisi ini disebut dead heart (fase vegetatif).

Artinya, batang padi bagian tengah (titik tumbuh) rusak dari dalam karena dimakan ulat kecil yang hidup di batang.

Menurut IRRI (International Rice Research Institute), sundep biasanya terjadi pada padi umur 20–50 hari setelah tanam, ketika tanaman masih muda dan jaringan batangnya lunak.

Kalau tidak segera diatasi, tanaman jadi kerdil, tidak bisa beranak banyak, bahkan mati total.


Penyebab Sundep

Penyebab utama sundep adalah hama penggerek batang padi (rice stem borer) dari golongan ngengat (Lepidoptera).

Beberapa jenis yang umum di Indonesia antara lain:

  • Scirpophaga incertulas (penggerek batang padi kuning)
  • Scirpophaga innotata (penggerek batang padi putih)
  • Chilo suppressalis
  • Sesamia inferens

Ngengat betina meletakkan telurnya di daun padi. Setelah menetas, larva langsung masuk ke dalam batang dan memakan jaringan di dalamnya. Akibatnya, titik tumbuh rusak dan daun utama menguning.

Faktor yang mendukung terjadinya sundep:

  • Tanaman padi muda dengan batang lunak.
  • Cuaca lembap dan suhu tinggi.
  • Penanaman tidak serempak antarpetak sawah.
  • Sisa jerami yang tidak dibersihkan (jadi tempat larva bertahan).
  • Varietas padi yang rentan terhadap hama batang.

Menurut penelitian Universitas Udayana (2020), sundep paling banyak terjadi pada lahan yang ditanami terus-menerus tanpa jeda dan memiliki drainase buruk.


Ciri-Ciri Tanaman Padi yang Terkena Sundep

Supaya tidak salah diagnosa, kenali ciri-cirinya berikut ini

  • Titik tumbuh atau daun muda di tengah rumpun layu dan mudah dicabut, biasanya ujungnya berwarna cokelat.
  • Anakan utama mati, tapi anakan di sekitarnya masih hidup.
  • Batang terasa kosong di dalam karena dimakan ulat.
  • Tidak muncul anakan baru dari batang yang rusak.
  • Bila dibelah, terlihat ulat kecil berwarna krem atau putih di dalam batang.

Ciri ini muncul sekitar 4–6 hari setelah larva menetas. Jika serangan terjadi pada fase malai, gejalanya disebut beluk (malai putih dan kosong).


Dampak Serangan Sundep terhadap Tanaman Padi

Jangan sepelekan sundep! Walau awalnya hanya satu-dua batang yang layu, efeknya bisa besar.

Menurut Balitbangtan Kementan RI, kerugian akibat sundep bisa mencapai:

  • 20–29% penurunan hasil panen
  • Penurunan jumlah anakan produktif
  • Tanaman kerdil dan tidak seragam
  • Potensi gagal panen (puso) jika serangan parah

Ambang ekonomi sundep menurut penelitian IPTEK Tanaman Pangan adalah >3% rumpun terserang. Jika lebih dari itu, tindakan pengendalian perlu segera dilakukan.


Siklus Hidup Penggerek Batang Padi (Penyebab Sundep)

Memahami siklus hidup hama ini membantu kita memotong rantainya

  1. Ngengat dewasa bertelur di daun padi muda.
  2. Telur menetas (4–9 hari) menjadi larva kecil.
  3. Larva masuk ke batang padi dan mulai makan jaringan bagian dalam (menyebabkan sundep).
  4. Larva berubah jadi pupa di dalam batang.
  5. Ngengat dewasa keluar, siap bertelur lagi.

Dalam kondisi ideal, satu generasi bisa selesai dalam 40–50 hari. Artinya, dalam satu musim tanam bisa terjadi beberapa kali siklus!


Cara Mengatasi Sundep di Tanaman Padi Secara Efektif dan Aman

Ada tiga pendekatan utama yang disarankan oleh FAO dan Kementerian Pertanian RI:

1. Cara Mekanis dan Kultur Teknis

Cara ini paling mudah dan ramah lingkungan:

  • Tanam serempak di satu hamparan untuk memutus siklus hama.
  • Bersihkan jerami sisa panen atau rendam lahan setelah panen agar pupa mati.
  • Cabut dan musnahkan rumpun yang terserang berat supaya larva tidak pindah.
  • Genangi sawah 3–5 cm untuk menekan populasi larva di batang.
  • Gunakan varietas tahan penggerek, misalnya varietas unggul yang direkomendasikan oleh Balitbangtan.
  • Atur waktu tanam — jangan terlalu jauh berbeda dengan lahan tetangga.

Menurut Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, langkah-langkah sederhana ini bisa menurunkan populasi hama hingga 40–50%.

2. Cara Biologis (Ramah Lingkungan)

Metode ini mengandalkan musuh alami dan bahan hayati.

  • Gunakan parasitoid alami seperti Telenomus rowani dan Trichogramma japonicum yang menyerang telur penggerek batang.
  • Jaga populasi predator alami seperti laba-laba, capung, dan kumbang carabid.
  • Gunakan perangkap feromon atau lampu untuk menarik ngengat dewasa.
  • Gunakan biopestisida berbahan bakteri Beauveria bassiana yang terbukti efektif menekan larva di batang.

Data FAO (2023) menyebutkan bahwa pengendalian hayati bisa menekan serangan sundep hingga 60% jika diterapkan secara terpadu dengan kultur teknis.

3. Cara Kimia (Jika Serangan Berat)

Langkah terakhir bila cara lain belum efektif.

  • Gunakan insektisida berbahan aktif fipronil, klorpirifos, atau BPMC, dengan dosis sesuai label.
  • Aplikasi dilakukan saat populasi ngengat tinggi atau gejala sundep mencapai >10% rumpun terserang.
  • Semprot di sore hari (ngengat aktif) dan hindari penyemprotan berulang tanpa pengamatan.
  • Selalu gunakan APD (alat pelindung diri) dan ikuti dosis anjuran Balai Proteksi Tanaman Pangan.

Menurut IRRI, penggunaan insektisida yang tepat waktu dan selektif dapat mengurangi serangan sundep hingga 70% tanpa merusak musuh alami.


Pencegahan Agar Sundep Tidak Menyebar ke Tanaman Lain

Lebih baik mencegah daripada mengobati! Berikut cara mencegah sundep menular ke rumpun lain:

  • Pantau lahan secara rutin, terutama umur 20–40 hari setelah tanam.
  • Gunakan tanam serentak dan jeda tanam antar musim.
  • Rotasi tanaman dengan palawija setelah panen padi.
  • Keringkan lahan sesekali untuk menghambat perkembangan larva.
  • Libatkan petani satu hamparan supaya pengendalian dilakukan serentak.

Menurut FAO dan IRRI, keberhasilan pengendalian hama di lahan padi sangat bergantung pada koordinasi antarpetani di satu wilayah.


Kesalahan Umum Petani dalam Menghadapi Sundep

  • Menyemprot pestisida secara rutin tanpa memantau hama.
  • Tidak mengenali gejala sundep sejak dini.
  • Mengabaikan sanitasi jerami setelah panen.
  • Tidak menggunakan varietas tahan atau tanam serentak.
  • Menunda pengendalian hingga kerusakan parah.

Akibatnya, hama semakin kebal, musuh alami mati, dan biaya produksi justru membengkak.


Tanda-Tanda Pengendalian Sundep Berhasil

  • Jumlah tanaman sundep berkurang.
  • Anakan produktif bertambah.
  • Tanaman tumbuh seragam dan sehat.
  • Musuh alami mulai muncul kembali di lahan.
  • Hasil panen mendekati atau melebihi rata-rata normal.

Kalau tanda-tanda ini sudah terlihat, berarti pengendalianmu efektif


Kesimpulan

Sundep memang jadi momok bagi petani padi, tapi bukan berarti tak bisa diatasi.

Kuncinya adalah pengendalian terpadu (PHT) yang mencakup:

  • Cara mekanis (tanam serempak, sanitasi jerami)
  • Cara biologis (musuh alami & biopestisida)
  • Cara kimia (hanya bila diperlukan)

Dengan pemantauan rutin, kerja sama antarpetani, dan penggunaan cara ramah lingkungan, sundep bisa dikendalikan tanpa merusak keseimbangan ekosistem sawah.

Ingat, petani yang cerdas bukan yang paling sering menyemprot, tapi yang paling tahu kapan dan bagaimana bertindak!



Desember 04, 2025


EmoticonEmoticon