Kenapa Metomil Dilarang pada Tanaman Padi? Ini Alasan, Risiko, dan Aturan Terbarunya

Ilustrasi edukatif petani padi di sawah memegang botol insektisida Metomil dengan simbol bahaya, dikelilingi ikon ikan mati, burung, katak, dan mikroorganisme tanah sebagai gambaran dampak pencemaran lingkungan dan air irigasi.
Banyak petani dulu mengenal metomil sebagai “obat hama yang cepat banget mematikan wereng”. Tapi belakangan, metomil makin jarang direkomendasikan, apalagi untuk tanaman padi. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan metomil dibatasi ketat karena alasan kesehatan, lingkungan, dan aturan pemerintahan.

Artikel ini akan menjelaskan dengan bahasa ringan dan sederhana: apa itu metomil, kenapa dilarang pada padi, bagaimana aturan terbarunya, apa risikonya, dan apa alternatif yang lebih aman.

 

Apa Itu Metomil?

1. Pengertian Singkat

Metomil adalah insektisida dari golongan karbamat. Banyak digunakan sejak tahun 1980–2000-an untuk mengendalikan berbagai hama di sawah, terutama wereng dan ulat. Metomil termasuk insektisida racun kontak dan lambung yang bekerja sangat cepat.

2. Cara Kerja Metomil

Menurut literatur FAO dan buku toksikologi pertanian (IPB/UGM), metomil bekerja dengan:

  • Menghambat enzim AChE (acetylcholinesterase) pada sistem saraf serangga.
  • Akibatnya, serangga mengalami kejang, kelumpuhan, dan mati dalam waktu singkat.

Namun, mekanisme yang sama juga memengaruhi manusia, ternak, burung, dan organisme lain.

3. Hama yang Dulu Dikendalikan Metomil

Beberapa hama yang dulu sering dikendalikan metomil, antara lain:

  • Wereng coklat
  • Ulat daun
  • Penggerek batang
  • Hama pengisap daun

Keefektifan inilah yang membuat metomil dulu sangat populer di lapangan.

 

Kenapa Metomil Dilarang pada Tanaman Padi?

1. Sangat Beracun bagi Manusia

Menurut FAO dan WHO, metomil masuk kategori Highly Hazardous Pesticides (HHPs) karena:

  • Dosis kecil saja bisa menyebabkan keracunan.
  • Efeknya sangat cepat.
  • Bahaya terbesar muncul melalui kulit, napas, atau tertelan.

Gejala keracunan yang umum dilaporkan dalam jurnal toksikologi:

  • Pusing, muntah, lemas
  • Napas sesak
  • Kejang dan hilang kesadaran (dosis tinggi)

Karena risiko tinggi ini, banyak negara membatasi atau menarik kembali registrasi metomil.

2. Berbahaya bagi Organisme Air

Data FAO menyebutkan bahwa metomil sangat toksik bagi:

  • Ikan air tawar
  • Udang dan plankton
  • Hewan air mikro seperti daphnia

Di sawah, air yang membawa sisa metomil dapat mengalir ke saluran irigasi dan memengaruhi ekosistem.

3. Residu pada Tanaman dan Lingkungan

Beberapa riset dari universitas pertanian Indonesia mencatat bahwa:

  • Residu metomil bisa bertahan di air dan tanah dalam jangka waktu tertentu.
  • Sawah yang sering memakai metomil menunjukkan penurunan populasi mikroba tanah.

Jika padi menyerap residu dalam jumlah tertentu, berpotensi mengganggu keamanan pangan.

4. Risiko Tinggi bagi Burung dan Satwa Liar

IRRI dan studi di Asia Tenggara menemukan bahwa metomil dapat mencemari:

  • Burung pemakan serangga
  • Katak dan kodok
  • Serangga berguna seperti laba-laba predator

Karena sawah merupakan ekosistem terbuka, dampaknya bisa meluas.

5. Tingkat Risiko Lebih Tinggi Dibandingkan Manfaat

Dengan adanya:

  • Resistensi hama (wereng sudah banyak yang kebal)
  • Risiko kesehatan tinggi
  • Dampak lingkungan besar

Maka banyak lembaga internasional dan pemerintah menyimpulkan risiko metomil jauh lebih besar daripada manfaatnya pada padi.

 

Aturan Terbaru Penggunaan Metomil di Indonesia

1. Status Registrasi

Menurut sistem registrasi pestisida Kementerian Pertanian (Permentan tentang Pendaftaran Pestisida):

  • Beberapa merek metomil sudah dicabut registrasinya.
  • Formulasi tertentu tidak lagi diperbolehkan untuk padi.

(Keterangan: Data spesifik setiap merek tidak dituliskan karena tergantung update registrasi Kementan tiap tahun.)

2. Ketentuan Kementerian Pertanian

Kementan menetapkan beberapa poin umum:

  • Pestisida berbahaya dan kategori HHP akan dibatasi atau ditarik.
  • Penggunaan di tanaman pangan—terutama padi—diatur sangat ketat.
  • Petugas lapangan (PPL) diminta mengarahkan petani ke alternatif yang lebih aman.

3. Sanksi atau Konsekuensi jika Tetap Dipakai

Menggunakan pestisida yang registrasinya dicabut termasuk pelanggaran, dengan risiko:

  • Produk padi bisa ditolak karena residu tinggi.
  • Petani bisa terkena teguran hingga sanksi administrasi.
  • Jika terjadi keracunan, tanggung jawab hukum bisa mengikut.

 

Bahaya Metomil pada Tanaman Padi & Lingkungan Sawah

1. Dampak pada Tanaman

Literatur pertanian mencatat potensi:

  • Fitotoksisitas (daun menguning/terbakar)
  • Gangguan pertumbuhan anakan pada penggunaan berlebihan
  • Penurunan efisiensi fotosintesis

Namun perlu dicatat:

Belum ada data ilmiah pasti yang menunjukkan metomil merusak jaringan padi secara langsung, tetapi beberapa pengamatan lapangan menunjukkan efek negatif jika dosis terlampau tinggi.

2. Dampak pada Tanah dan Mikroba

FAO melaporkan bahwa metomil:

  • Menurunkan populasi mikroorganisme tanah,
  • Mengganggu aktivitas dekomposer,
  • Menghambat siklus hara.

Akibatnya, kesuburan tanah dapat turun.

3. Dampak pada Hewan dan Ekosistem Sawah

  • Menyebabkan kematian ikan di pematang atau kolam kecil.
  • Mengurangi populasi musuh alami hama seperti laba-laba, kepik predator, capung.
  • Mengganggu rantai makanan sawah.

 

Apakah Masih Ada Petani yang Menggunakan Metomil?

1. Ya, karena efeknya cepat

Beberapa petani masih tergoda menggunakan metomil karena:

  • “Langsung jatuh”
  • “Paten mematikan wereng”
  • “Lebih murah daripada insektisida baru”

Namun ini sangat tidak disarankan.

2. Kesalahan Umum di Lapangan

Pengamatan lapangan (PPL dan penyuluh):

  • Dosis berlebihan agar efeknya lebih cepat.
  • Dicampur dengan insektisida lain.
  • Dipakai di fase padi yang sensitif.
  • Dipakai tanpa APD lengkap.

Kombinasi ini meningkatkan risiko keracunan dan residu.

 

Alternatif Aman Pengganti Metomil pada Padi

Berdasarkan rekomendasi Kementan, IRRI, dan penelitian universitas pertanian:

1. Untuk Wereng

  • Buprofezin
  • Pymetrozine
  • Dinotefuran (ketentuan regulasi berlaku)
  • Imidakloprid (hindari di fase berbunga karena risiko terhadap penyerbuk)

2. Untuk Ulat dan Penggerek Batang

  • Klorantraniliprol
  • Flubendiamide
  • Emamektin benzoate

3. Untuk Walang Sangit

  • Deltametrin
  • Fipronil (cek status regulasi terbaru)

4. Pengendalian Hayati & Kultur Teknis

  • Menggunakan agen hayati (Beauveria, Metarhizium, Bacillus thuringiensis)
  • Tanam serempak
  • Sanitasi lahan
  • Pengaturan jarak tanam
  • Pengelolaan air (intermittent irrigation)
  • Penggunaan varietas tahan wereng (IRRI & Balitbangtan)

 

FAQ: Pertanyaan Petani Tentang Metomil

1. Apakah metomil 40 SP masih boleh dipakai?

Sebagian besar tidak direkomendasikan lagi untuk padi. Cek registrasi Kementan untuk merek tertentu.

2. Kenapa dulu metomil direkomendasikan, tetapi sekarang tidak?

Karena:

  • Resistensi hama meningkat
  • Dampak kesehatan ditemukan lebih besar
  • Data lingkungan semakin jelas
  • Regulasi pestisida HHP diperketat

3. Berapa lama residu metomil hilang dari sawah?

FAO mencatat waktu paruh metomil di tanah relatif singkat, tetapi:

Belum ada data ilmiah pasti untuk kondisi sawah Indonesia.

Namun pengamatan lapangan menunjukkan residu dapat bertahan beberapa hari hingga beberapa minggu tergantung kondisi air dan tanah.

4. Apakah metomil masih aman untuk tanaman hortikultura?

Statusnya tergantung registrasi setiap komoditas. Beberapa masih terdaftar, tetapi tetap berisiko tinggi.

5. Kenapa beberapa toko masih menjualnya?

Karena stok lama atau registrasi merek tertentu belum dicabut.

Namun penggunaannya tetap harus sesuai aturan terbaru.

6. Apakah metomil lebih berbahaya dari karbofuran?

Keduanya termasuk Highly Hazardous Pesticides (HHP) menurut FAO.

Karbofuran umumnya dianggap lebih toksik, tetapi metomil juga berbahaya dan berisiko tinggi bagi manusia dan lingkungan.

 

Kesimpulan

Metomil dulu menjadi “obat sakti” bagi petani padi, tetapi kini risiko kesehatannya, dampak lingkungannya, serta regulasi pestisida membuatnya tidak lagi direkomendasikan. Banyak alternatif yang lebih aman, lebih efektif, dan lebih ramah lingkungan.

Petani dianjurkan beralih ke insektisida modern, agen hayati, dan teknik budidaya terpadu untuk hasil yang tetap baik tanpa mengorbankan kesehatan dan kelestarian sawah.

Desember 30, 2025


EmoticonEmoticon