Salah satu bahan aktif insektisida yang sudah lama dikenal
petani di Indonesia adalah BPMC. Meski sering dipakai,
masih banyak petani yang belum benar-benar memahami fungsi, cara kerja,
dosis aman, serta risikonya. Akibatnya, penggunaan menjadi
kurang efektif bahkan berisiko.
Artikel ini akan membahas BPMC secara lengkap, praktis, dan mudah
dipahami, berdasarkan referensi ilmiah dan praktik pertanian
yang umum diterapkan di Indonesia.
Mengenal Bahan Aktif BPMC
1. Apa Itu BPMC?
BPMC adalah
singkatan dari Bensultap
atau Fenobukarb, yaitu bahan aktif insektisida golongan karbamat.
Dalam istilah sederhana:
- BPMC adalah racun serangga
- Bekerja pada sistem saraf hama
- Banyak digunakan untuk mengendalikan hama penghisap seperti wereng
Menurut literatur pertanian (Balitbangtan, IRRI, dan buku
proteksi tanaman perguruan tinggi), insektisida karbamat seperti BPMC sudah
lama digunakan dalam sistem perlindungan tanaman padi di Asia.
2. Bentuk Formulasi BPMC di Pasaran
Di lapangan, BPMC umumnya tersedia dalam bentuk:
- EC (Emulsifiable Concentrate) – cair, dicampur air
- WP (Wettable Powder) – bubuk, dilarutkan sebelum semprot
Formulasi cair lebih sering dipakai petani karena mudah ditakar dan cepat larut.
Fungsi BPMC untuk Tanaman
Perlu diluruskan:
BPMC bukan pupuk dan bukan perangsang pertumbuhan.
Fungsi utama BPMC adalah:
- Mengendalikan hama penghisap cairan tanaman
- Menekan populasi hama pada fase awal hingga sedang
- Melindungi tanaman dari kehilangan hasil akibat serangan hama
Dengan pengendalian hama yang baik, tanaman bisa:
- Tumbuh lebih normal
- Mengisi bulir dengan baik
- Mengurangi risiko puso (gagal panen)
Cara Kerja BPMC
1. Cara Kerja BPMC pada Sistem Saraf Hama
BPMC bekerja dengan cara:
Menghambat enzim
kolinesterase pada sistem saraf serangga
Penjelasan sederhananya:
- Saraf hama menjadi terus aktif
- Otot hama mengalami kejang
- Hama akhirnya lumpuh dan mati
Cara kerja ini sudah banyak dijelaskan dalam buku entomologi
pertanian dan jurnal proteksi tanaman.
2. Karakter Kerja BPMC
Karakter BPMC antara lain:
- Bersifat racun kontak
- Juga bekerja sebagai racun perut
- Efektif pada hama muda hingga dewasa
- Tidak bersifat sistemik penuh (tidak menyebar ke seluruh jaringan tanaman)
Hama Sasaran BPMC
1. Hama Utama yang Sensitif terhadap BPMC
BPMC umumnya efektif untuk:
- Wereng coklat
- Wereng hijau
- Kepik penghisap
- Serangga kecil penghisap cairan
IRRI dan Balitbangtan mencatat bahwa BPMC pernah menjadi
salah satu insektisida andalan untuk pengendalian wereng, meskipun
efektivitasnya kini tergantung kondisi lapangan.
2. Tanaman Sasaran Penggunaan BPMC
Tanaman yang umum diaplikasi BPMC:
- Padi
- Beberapa tanaman pangan lain
- Tanaman hortikultura tertentu (sesuai label)
Penggunaan harus mengikuti rekomendasi pada label produk.
Dosis Aman BPMC untuk Petani
1. Dosis Umum Sesuai Anjuran
Secara umum (berdasarkan label dan panduan lapangan):
- 0,5–1 ml per liter air
- Atau sesuai formulasi dan merek dagang
Catatan penting
Dosis bisa berbeda antar produk. Ikuti label resmi, karena
itulah acuan legal dan aman.
2. Penyesuaian Dosis Berdasarkan Umur Tanaman
Prinsip umum di lapangan:
- Tanaman muda → dosis lebih rendah
- Tanaman tua atau serangan berat → dosis mendekati batas anjuran
Belum ada data ilmiah yang benar-benar pasti mengenai
penyesuaian dosis detail berdasarkan umur tanaman, namun praktik lapangan menunjukkan
pendekatan ini lebih aman bagi tanaman.
Waktu dan Cara Aplikasi BPMC yang Tepat
1. Waktu Penyemprotan yang Dianjurkan
Waktu terbaik aplikasi:
- Pagi hari (06.00–09.00)
- Sore hari (16.00–18.00)
Hindari:
- Siang terik
- Saat hujan atau angin kencang
2. Teknik Aplikasi yang Efektif
Agar BPMC bekerja optimal:
- Semprot merata
- Arahkan ke bagian tanaman yang sering dihuni hama
- Gunakan volume semprot cukup, tidak asal basah
Risiko dan Dampak Negatif Penggunaan BPMC
1. Risiko bagi Tanaman
Jika dosis berlebihan:
- Daun bisa menguning
- Pertumbuhan melambat
- Tanaman stres
2. Risiko bagi Lingkungan
Berdasarkan literatur FAO dan buku perlindungan tanaman:
- BPMC bisa berdampak pada serangga non-sasaran
- Berpotensi mengganggu musuh alami hama
3. Risiko bagi Kesehatan Petani
Paparan berlebih dapat menyebabkan:
- Pusing
- Mual
- Iritasi kulit
Karena itu APD (sarung tangan, masker)
sangat dianjurkan.
Apakah BPMC Bisa Dicampur dengan Pestisida Lain?
1. Prinsip Dasar Pencampuran
Secara umum:
- Boleh dicampur jika kompatibel
- Harus diuji dulu dalam skala kecil
2. Risiko Pencampuran yang Salah
Jika salah campur:
- Efektivitas turun
- Risiko fitotoksik meningkat
- Hama tidak mati optimal
Tanda-Tanda BPMC Tidak Bekerja Optimal
Beberapa tanda di lapangan:
- Hama masih aktif setelah 2–3 hari
- Populasi tidak berkurang
- Serangan muncul kembali cepat
Ini bisa terjadi karena resistensi hama.
Tips Aman Menggunakan BPMC di Lapangan
- Ikuti dosis label
- Jangan digunakan terus-menerus
- Rotasi dengan bahan aktif lain
- Gunakan APD
- Semprot hanya saat perlu
FAQ – Pertanyaan yang Sering Ditanyakan Petani
1. Apakah BPMC masih efektif untuk wereng?
Masih bisa efektif, tergantung tingkat resistensi di lapangan.
2. Berapa jarak aman panen setelah aplikasi?
Umumnya 7–14 hari, sesuai label produk.
3. Apakah BPMC aman untuk padi dan sayuran?
Aman jika sesuai dosis dan anjuran.
4. Bolehkah BPMC dicampur fungisida atau pupuk daun?
Bisa, tapi uji kompatibilitas dulu.
5. Kenapa wereng kebal terhadap BPMC?
Karena penggunaan berulang tanpa rotasi bahan aktif.
Kesimpulan
BPMC adalah insektisida
golongan karbamat yang berfungsi mengendalikan hama penghisap
seperti wereng. Jika digunakan dengan dosis tepat, waktu tepat, dan teknik benar,
BPMC masih bermanfaat di lapangan.
Namun, penggunaan berlebihan dan terus-menerus dapat
menyebabkan resistensi
hama, risiko lingkungan, dan masalah kesehatan. Karena itu,
BPMC sebaiknya digunakan secara bijak dan terintegrasi dengan
prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

EmoticonEmoticon