Salah satu herbisida yang paling banyak digunakan di
lapangan adalah isopropilamina glifosat.
Bahan aktif ini dikenal efektif, praktis, dan dapat digunakan pada berbagai
kondisi lahan. Namun, agar penggunaannya aman dan hasilnya maksimal, petani
perlu memahami fungsi, cara kerja, serta gulma sasaran yang tepat.
Artikel ini membahas isopropilamina glifosat
dengan bahasa sederhana, berdasarkan referensi ilmiah dan praktik pertanian di
Indonesia.
Apa Itu Isopropilamina Glifosat?
1. Pengertian Isopropilamina Glifosat
Isopropilamina glifosat adalah garam dari senyawa glifosat,
yang digunakan sebagai bahan aktif herbisida sistemik non-selektif.
Menurut berbagai literatur pertanian dan dokumen FAO,
glifosat bekerja dengan cara menghambat pertumbuhan gulma
dari dalam jaringan tanaman, bukan hanya merusak bagian
luarnya.
Secara sederhana:
- Glifosat = zat aktif pembasmi gulma
- Isopropilamina = bentuk garam yang membuat glifosat mudah larut dalam air dan lebih stabil saat diaplikasikan
2. Perbedaan Glifosat Asam dan Garam Isopropilamina
Dalam praktik pertanian, petani selalu menggunakan glifosat dalam bentuk garam,
salah satunya isopropilamina glifosat.
Fungsi Isopropilamina Glifosat di Lapangan
Berdasarkan panduan FAO, IRRI, dan Balitbangtan, fungsi
utama isopropilamina glifosat adalah:
- Mengendalikan gulma sebelum tanam (pra-tanam)
- Membersihkan lahan dari gulma keras dan menahun
- Mengendalikan gulma di kebun, tegalan, sawah kering, dan perkebunan
- Digunakan pada sistem olah tanah minimum (OTM)
Herbisida ini tidak memilih jenis tanaman,
sehingga harus diaplikasikan dengan hati-hati agar tidak mengenai tanaman
utama.
Cara Kerja Isopropilamina Glifosat
1. Mekanisme Kerja di Dalam Gulma
Isopropilamina glifosat bekerja secara sistemik. Artinya:
- Diserap melalui daun gulma
- Masuk ke jaringan tanaman
- Ditranslokasikan ke akar dan titik tumbuh
Secara ilmiah, glifosat menghambat enzim EPSPS (5-enolpyruvylshikimate-3-phosphate
synthase), yang berperan penting dalam pembentukan asam amino
esensial pada tanaman.
Disederhanakan:
Gulma “kelaparan” dari dalam karena tidak bisa membuat zat
penting untuk hidupnya.
2. Kenapa Gulma Mati Perlahan?
Banyak petani bertanya, “Kenapa gulma tidak langsung mati?”
Hal ini normal karena:
- Glifosat bukan racun kontak
- Membutuhkan waktu untuk menyebar ke seluruh jaringan
- Gulma biasanya mati dalam 5–14 hari setelah aplikasi
Menurut literatur IRRI, kematian bertahap ini justru
menandakan herbisida bekerja hingga ke akar.
Jenis Gulma Sasaran yang Efektif Dibasmi
1. Gulma Daun Sempit
Contoh:
- Rumput teki (Cyperus rotundus)
- Rumput grinting (Cynodon dactylon)
- Echinochloa spp.
Isopropilamina glifosat efektif karena mampu masuk hingga
rimpang dan akar.
2. Gulma Daun Lebar
Contoh:
- Babadotan (Ageratum conyzoides)
- Bandotan
- Bayam liar
Gulma daun lebar umumnya lebih cepat menunjukkan gejala
layu.
3. Gulma Menahun (Sulit Dikendalikan)
Contoh:
- Alang-alang (Imperata cylindrica)
- Kirinyuh
FAO dan Balitbangtan mencatat glifosat efektif untuk gulma
menahun jika dosis dan waktu aplikasi tepat.
Kapan Isopropilamina Glifosat Paling Efektif Digunakan
Berdasarkan praktik lapangan di Indonesia:
- Gulma sedang aktif tumbuh
- Daun hijau segar (tidak tua atau stres)
- Tidak hujan minimal 4–6 jam setelah semprot
Penyemprotan saat gulma stres (kering, tergenang, atau
sakit) menurunkan efektivitas.
Dosis dan Cara Aplikasi yang Dianjurkan
1. Dosis Umum
Menurut label produk dan rekomendasi Balitbangtan:
- 2–6 liter formulasi per hektare, tergantung jenis dan umur gulma
Selalu ikuti dosis pada label resmi produk.
2. Teknik Penyemprotan
- Gunakan nozzle kabut halus–sedang
- Semprot merata ke daun
- Hindari menetes berlebihan
3. Waktu Aplikasi
- Pagi atau sore hari
- Hindari terik matahari dan hujan
Keunggulan Isopropilamina Glifosat
- Efektif terhadap berbagai jenis gulma
- Sistemik hingga akar
- Mudah diaplikasikan
- Mendukung olah tanah minimum
- Banyak diteliti secara ilmiah
Keterbatasan dan Risiko Penggunaan
- Tidak selektif (bisa merusak tanaman utama)
- Penggunaan berulang dapat memicu resistensi gulma
- Tidak bekerja optimal pada gulma tertutup debu atau lumpur
FAO menyarankan rotasi metode pengendalian gulma.
Aturan Aman dan Keselamatan Penggunaan
1. Keamanan bagi Petani
- Gunakan APD (sarung tangan, masker, sepatu)
- Hindari kontak langsung
2. Keamanan Lingkungan
Menurut FAO, glifosat:
- Terikat kuat pada tanah
- Relatif cepat terurai oleh mikroorganisme
3. Interval Tanam
Umumnya:
- 7–14 hari setelah aplikasi, tergantung kondisi lahan
Kesalahan Umum Petani dalam Menggunakan Glifosat
- Dosis terlalu rendah
- Penyemprotan saat hujan
- Mencampur tanpa uji kompatibilitas
- Mengharapkan hasil instan
FAQ – Pertanyaan yang Sering Ditanyakan Petani
1. Apakah glifosat membunuh tanaman sampai akar?
Ya, karena bekerja secara sistemik.
2. Berapa hari gulma mati setelah disemprot?
Umumnya 5–14 hari.
3. Apakah aman untuk tanah?
Menurut FAO dan penelitian universitas, relatif aman jika
sesuai dosis.
4. Apakah bisa dicampur herbisida lain?
Belum ada data ilmiah yang pasti mengenai semua campuran.
Lakukan uji coba kecil terlebih dahulu.
5. Apakah gulma bisa tumbuh lagi?
Bisa, terutama jika biji gulma baru tumbuh.
Kesimpulan
Isopropilamina glifosat
adalah herbisida sistemik non-selektif yang efektif membasmi berbagai jenis
gulma, termasuk gulma menahun. Dengan memahami cara kerja, waktu aplikasi, dan
aturan keselamatan, petani dapat memanfaatkannya secara optimal dan aman.
Peneliti Balitbangtan dan FAO menekankan bahwa penggunaan
sesuai label dan dikombinasikan dengan metode pengendalian lain adalah kunci
keberhasilan jangka panjang.

EmoticonEmoticon