Agar tidak salah langkah, penting untuk memahami mana gejala yang normal, dan mana yang menunjukkan masalah serius.
Penjelasan berikut dirangkum dari berbagai sumber pertanian seperti penelitian
Balitbangtan, panduan nutrisi tanaman dari FAO, serta literatur budidaya jagung
dari UGM dan IPB.
Apakah Daun Bawah Mengering di Umur 50 HST Itu Normal?
1. Proses Alami Menuju Pembentukan Tongkol
Menurut panduan fisiologi jagung dari Balitsereal
(Balitbangtan), menjelang umur 45–55 HST,
tanaman memasuki fase vegetatif akhir menuju
generatif. Pada fase ini, tanaman mulai memfokuskan energi ke pembentukan tongkol dan bunga jantan.
Secara alami:
- Daun paling bawah (1–2 helai) mulai kehilangan klorofil.
- Warna berubah dari hijau → kuning pucat → coklat.
- Jaringan menjadi kering karena nutrisi “ditarik” ke bagian atas.
Kesimpulan:
Jika hanya 1–2 daun paling bawah yang kering, tanpa gejala lain, kemungkinan
besar normal.
2. Kapan Dianggap Tidak Normal?
Daun mengering dianggap tidak wajar jika:
- Lebih dari 3–4 daun bawah mengering sebelum umur 45–55 HST.
- Pengeringan cepat, dimulai dari tengah daun atau ujung daun.
- Disertai bercak, sobekan, atau batang melemah.
- Jagung terlihat kerdil dan pucat.
Jika muncul gejala ini, biasanya ada gangguan nutrisi, penyakit, hama, atau stress
lingkungan.
Penyebab Daun Bawah Jagung Umur 50 HST Mengering Secara Tidak Normal
1. Kekurangan Nitrogen (N)
Menurut FAO dan penelitian nutrisi tanaman jagung dari IPB,
nitrogen adalah unsur utama pembentuk daun dan klorofil. Kekurangan N
menyebabkan:
- Penguningan dimulai dari daun bawah.
- Warna kuning membentuk pola “V” terbalik.
- Pertumbuhan tanaman menurun.
2. Kekurangan Kalium (K)
Dari penelitian UGM dan Balitbangtan, kekurangan kalium
menyebabkan:
- Tepi daun terbakar (necrotic margin).
- Daun bawah tampak kering di pinggir.
- Tanaman lebih mudah terserang penyakit.
Kalium sangat penting untuk transport air dan ketahanan
tanaman.
3. Serangan Penyakit Daun
a. Hawar Daun (Helminthosporium / Leaf Blight)
Disebutkan dalam beberapa jurnal internasional tentang
penyakit jagung (Bipolaris maydis dan Exserohilum turcicum):
- Muncul bercak coklat memanjang.
- Menyebar cepat pada cuaca lembab.
- Daun dapat mengering lebih cepat.
b. Karat Daun (Puccinia sorghi)
Menurut laporan Balitbangtan dan FAO:
- Ada bintik-bintik jingga seperti bubuk.
- Penyakit berkembang pada kondisi lembab.
- Daun mengering jika serangan berat.
c. Busuk Daun & Batang (Fusarium sp.)
Menurut penelitian Balitsereal:
- Daun layu dari bawah.
- Batang lembek dan berwarna coklat kekuningan.
- Pertumbuhan tongkol bisa terhenti.
4. Serangan Hama
a. Ulat Grayak (Spodoptera frugiperda)
Dari laporan FAO dan Kementan RI:
- Memakan daun sehingga berlubang atau sobek.
- Serangan berat menyebabkan daun cepat kering.
- Biasanya terlihat kotoran ulat di bagian tengah daun.
b. Penggerek Batang (Ostrinia furnacalis)
Ditulis pada studi jagung UGM & Balitbangtan:
- Gejala “dead heart” (pucuk mati).
- Daun bawah bisa mengering akibat gangguan transport nutrisi.
5. Stress Air
a. Kekeringan
Menurut panduan irigasi jagung FAO:
- Daun menggulung, lalu menguning.
- Daun bawah paling cepat kering.
- Pertumbuhan biji terganggu.
b. Kelebihan Air / Tergenang
Balai Penelitian Tanah Kementan menjelaskan:
- Akar kekurangan oksigen.
- Daun bawah menguning lalu kering.
- Batang mudah rebah.
6. Keracunan Herbisida
Kesalahan dosis atau penyemprotan saat angin kencang dapat
menyebabkan:
- Tepi daun terbakar.
- Daun mengering tidak beraturan.
- Pertumbuhan melambat.
Beberapa herbisida berbahan aktif tertentu memang sensitif
terhadap jagung di fase awal.
Cara Diagnosis Akurat Masalah Daun Bawah yang Mengering
1. Cek warna dan pola kekeringan
- Kuning seragam dari bawah: kekurangan nitrogen.
- Tepi daun terbakar: kekurangan kalium atau keracunan herbisida.
- Bercak coklat memanjang: penyakit hawar daun.
- Bercak jingga berdebu: karat daun.
- Lubang sobek: ulat grayak.
2. Cek kondisi tanah
- Sangat kering, retak: stress kekeringan.
- Lembek, tergenang: stress kelebihan air.
3. Cek gejala lain
- Batang kecoklatan: dugaan Fusarium.
- Ada kotoran ulat: kemungkinan ulat grayak.
- Ada geretan masuk batang: penggerek batang.
4. Tanyakan riwayat pemupukan & penyemprotan
- Apakah pupuk N dan K sudah sesuai dosis?
- Apakah pernah semprot herbisida angin kencang?
- Kapan terakhir aplikasi fungisida atau insektisida?
Solusi Mengatasi Daun Bawah Jagung Mengering Tidak Normal
1. Jika Penyebabnya Kekurangan Nitrogen
Rekomendasi Balitsereal:
- Berikan pupuk N tambahan (urea) 100–150 kg/ha, disesuaikan kondisi tanaman.
- Lakukan pembubunan untuk membantu akar menyerap nutrisi.
- Aplikasi dilakukan saat tanah lembab.
2. Jika Kekurangan Kalium
Menurut litbang Kementan:
- Berikan KCl sekitar 75–100 kg/ha.
- Jika tidak ada, bisa gunakan pupuk majemuk yang mengandung K.
3. Jika Disebabkan Penyakit Daun
a. Gunakan Fungisida
Balitbangtan merekomendasikan:
- Bahan aktif mankozeb, propineb, atau azoksistrobin.
- Semprot 7–10 hari sekali pada kondisi kelembapan tinggi.
b. Perbaiki sirkulasi udara
- Atur jarak tanam optimal.
- Singkirkan sisa-sisa tanaman sakit di lahan.
4. Jika Disebabkan Hama
a. Atasi Ulat Grayak
Menurut Kementan dan FAO:
- Gunakan insektisida berbahan aktif klorantraniliprol, metoksifenozida, atau spinosad.
- Lakukan pengamatan rutin di titik tumbuh.
b. Atasi Penggerek Batang
Rekomendasi Balitsereal:
- Aplikasikan insektisida granul di pangkal tanaman.
- Gunakan varietas tahan bila tersedia.
5. Jika Disebabkan Stress Air
a. Kekeringan
- Lakukan penyiraman atau irigasi ringan.
- Gunakan mulsa untuk menjaga kelembapan.
b. Kelebihan Air
- Buat parit pembuangan.
- Tinggikan bedengan, terutama di lahan liat atau sawah tadah hujan.
6. Jika Keracunan Herbisida
- Siram tanaman untuk mempercepat pemulihan.
- Hentikan penggunaan sementara.
- Hindari penyemprotan saat angin >10 km/jam.
Cara Mencegah Daun Bawah Jagung Mengering Terlalu Cepat
1. Pupuk Berimbang Sesuai Umur
Ikuti rekomendasi Balitsereal: NPK berimbang + tambahan N saat
umur 30–35 HST.
2. Rotasi Tanaman
Kurangi risiko penyakit tular tanah seperti Fusarium.
3. Irigasi Tepat
Jangan biarkan tanah terlalu kering atau tergenang.
4. Pengendalian Hama Sejak Dini
Pengamatan rutin terutama pada umur 7–30 HST.
5. Pemilihan Varietas Tahan Penyakit
Balitbangtan memiliki varietas jagung unggul yang lebih
tahan hawar daun & Fusarium.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Ditanyakan Petani)
1. Apakah daun bawah mengering selalu berbahaya?
Tidak selalu. Jika hanya 1–2 daun bawah, itu normal. Jika lebih dari 3–4
helai, perlu diperiksa.
2. Apakah jagung masih bisa berbuah normal?
Bisa, selama daun bagian tengah–atas
tetap hijau dan sehat.
3. Apakah pupuk nitrogen bisa memperbaiki daun yang sudah kering?
Tidak bisa. Daun yang sudah mati tidak pulih.
Pupuk hanya mencegah daun sehat ikut menguning.
4. Umur berapa pemupukan terakhir jagung?
Menurut panduan Balitsereal:
Pemupukan terakhir biasanya 30–35
HST, setelah itu tinggal pemeliharaan.
Kesimpulan
Daun bawah jagung umur 50 HST yang mengering bisa merupakan proses alami, namun juga bisa
menjadi tanda kekurangan nutrisi, penyakit, hama, stress air,
atau keracunan herbisida.
Dengan pemeliharaan yang tepat—pupuk berimbang, irigasi
teratur, pengendalian hama, dan penggunaan varietas unggul—tanaman tetap bisa
menghasilkan tongkol yang maksimal.

EmoticonEmoticon