Pertanyaannya, benarkah daun bawah jagung harus dibuang di
umur 75 HST? Atau justru kebiasaan ini bisa merugikan hasil
panen?
Artikel ini akan membahasnya secara pelan-pelan dan mudah dipahami,
berdasarkan sumber ilmiah pertanian
dan pengalaman lapangan di
Indonesia, supaya petani tidak salah langkah.
Apa yang Dimaksud Daun Bawah pada Tanaman Jagung?
Daun bawah jagung
adalah daun-daun yang tumbuh di bagian bawah batang, biasanya:
- Daun pertama sampai beberapa daun di bawah tongkol
- Daun yang lebih tua dan muncul lebih awal
- Letaknya dekat permukaan tanah
Dalam istilah sederhana, daun bawah adalah daun tua yang
sering dianggap “tidak penting” oleh sebagian petani. Padahal, secara fungsi
tanaman, daun ini masih
bekerja selama kondisinya hijau dan sehat.
Umur 75 HST Jagung Masuk Fase Apa?
HST artinya Hari Setelah Tanam. Pada umur
sekitar 70–80 HST,
sebagian besar jagung di Indonesia sudah masuk fase:
- Pembungaan akhir
- Pengisian biji (grain filling)
Di fase ini:
- Tongkol sudah terbentuk
- Biji mulai terisi pati
- Tanaman membutuhkan hasil fotosintesis maksimal
Menurut buku fisiologi tanaman dan panduan budidaya jagung
dari perguruan tinggi pertanian, fase pengisian biji adalah fase kritis
yang sangat menentukan berat tongkol dan hasil panen.
Benarkah Daun Bawah Jagung Harus Dibuang?
Jawaban singkatnya: tidak selalu.
Sampai saat ini, belum ada data ilmiah yang secara tegas
menyatakan bahwa daun bawah jagung wajib dibuang di umur 75 HST
untuk meningkatkan hasil.
Beberapa poin penting dari literatur pertanian dan pedoman
budidaya jagung:
- Daun yang masih hijau masih aktif fotosintesis
- Pengurangan daun secara berlebihan bisa menurunkan hasil
- Pembuangan daun hanya dianjurkan dalam kondisi tertentu, bukan sebagai aturan umum
Jadi, anggapan bahwa daun bawah jagung harus dibuang di umur 75 HST
lebih banyak berasal dari kebiasaan lapangan, bukan
rekomendasi ilmiah baku.
Fungsi Daun Bawah Jagung bagi Tanaman
Walaupun letaknya di bawah, daun ini punya beberapa fungsi
penting:
1. Sumber Fotosintesis Tambahan
Fotosintesis adalah proses daun membuat makanan dari sinar
matahari. Selama daun masih hijau, proses ini tetap berjalan.
2. Cadangan Energi untuk Pengisian Biji
Hasil fotosintesis dari daun tua ikut membantu pengisian
biji di tongkol.
3. Menjaga Keseimbangan Tanaman
Jumlah daun yang cukup membantu tanaman tidak mudah stres,
terutama saat cuaca panas atau kekurangan air.
Menurut literatur FAO dan buku agronomi, total luas daun
sangat berpengaruh pada hasil akhir tanaman jagung.
Risiko Membuang Daun Bawah Jagung Terlalu Dini
1. Penurunan Hasil Fotosintesis
Jika daun dibuang saat masih hijau:
- Luas daun berkurang
- Produksi makanan tanaman menurun
- Energi untuk pengisian biji berkurang
Akibatnya, tongkol bisa:
- Lebih ringan
- Biji tidak terisi penuh
2. Tanaman Mudah Stres
Daun membantu tanaman menghadapi:
- Panas
- Angin
- Kekeringan
Jika daun dipangkas berlebihan:
- Tanaman lebih cepat layu
- Pengisian biji bisa terganggu
3. Penurunan Berat dan Kualitas Tongkol
Beberapa hasil penelitian agronomi menunjukkan bahwa:
- Defoliasi (pengurangan daun) yang berlebihan saat fase generatif
- Berpotensi menurunkan bobot tongkol dan ukuran biji
Ini berarti kebiasaan membuang daun tanpa alasan jelas bisa merugikan hasil panen.
Kapan Daun Bawah Jagung Boleh Dibuang?
Daun bawah boleh dibuang, jika memenuhi kondisi berikut:
- Daun sudah kuning, kering, atau mati
- Daun terserang penyakit berat
- Daun menempel ke tanah dan berpotensi menjadi sumber jamur
Dalam kondisi ini, pembuangan daun bertujuan untuk:
- Menjaga kebersihan lahan
- Mengurangi sumber penyakit
- Memperbaiki sirkulasi udara
Namun tetap, yang dibuang adalah daun rusak, bukan daun sehat.
Cara Aman Membersihkan Daun Bawah Jagung
Agar tidak salah langkah, lakukan dengan cara berikut:
- Pilih daun yang benar-benar kering atau sakit
- Jangan membuang lebih dari 1–2 daun per tanaman
- Gunakan alat tajam dan bersih
- Lakukan saat cuaca kering (tidak hujan)
Cara ini lebih aman dibanding memangkas banyak daun
sekaligus.
Kesalahan Umum Petani Terkait Pembuangan Daun Jagung
Beberapa kesalahan yang sering terjadi di lapangan:
- Menganggap daun bawah selalu tidak berguna
- Membuang daun saat masih hijau
- Mengikuti kebiasaan tanpa tahu tujuannya
- Memangkas terlalu banyak daun sekaligus
Kesalahan ini sering tidak disadari, tapi dampaknya baru
terasa saat panen.
Tips Agar Pengisian Tongkol Jagung Maksimal Tanpa Buang Daun
Daripada fokus membuang daun, lebih baik perhatikan hal
berikut:
- Pemupukan tepat (terutama nitrogen, fosfor, dan kalium)
- Air cukup saat pengisian biji
- Pengendalian hama dan penyakit tepat waktu
- Jaga daun tetap sehat sampai mendekati panen
Prinsipnya sederhana: daun sehat = tongkol terisi maksimal.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan Petani
1. Apakah buang daun bikin tongkol besar?
Tidak ada bukti ilmiah kuat bahwa membuang daun sehat
membuat tongkol lebih besar. Justru sebaliknya, daun membantu pengisian biji.
2. Berapa daun minimal yang harus tersisa?
Secara umum, tanaman jagung produktif memiliki 8–12 daun aktif
saat fase pengisian biji. Semakin banyak daun sehat, semakin baik
fotosintesisnya.
3. Apakah semua varietas jagung sama perlakuannya?
Tidak selalu. Varietas hibrida dan lokal bisa punya karakter
berbeda. Namun prinsip dasarnya sama: daun hijau tetap bermanfaat.
Kesimpulan
Daun bawah jagung tidak wajib dibuang di umur 75 HST.
Selama daun masih hijau dan sehat, daun tersebut masih berfungsi membantu
pengisian biji.
Pembuangan daun hanya dianjurkan jika:
- Daun sudah mati
- Terkena penyakit berat
- Berpotensi menjadi sumber infeksi
Daripada asal memangkas, petani sebaiknya fokus menjaga kesehatan daun dan kecukupan
nutrisi, karena itulah kunci tongkol jagung yang besar dan
bernas.

EmoticonEmoticon