Perlukah Daun Bawah Jagung Dibuang? Pengaruhnya terhadap Fotosintesis dan Pembentukan Tongkol pada Umur 75 HST

Ilustrasi perbandingan tanaman jagung umur 75 HST dengan daun bawah dipertahankan dan daun bawah dibuang, menunjukkan pengaruh fotosintesis terhadap pembentukan dan ukuran tongkol jagung, watermark Agriculture Gen Z.
Di lapangan, masih banyak petani jagung yang bertanya-tanya: apakah daun bawah jagung perlu dibuang saat umur sekitar 75 HST (Hari Setelah Tanam)?

Sebagian petani percaya bahwa membuang daun bawah bisa membuat tanaman lebih “ringan”, udara lebih lancar, dan tongkol menjadi lebih besar. Namun, ada juga yang khawatir justru hasil panen menurun.

Pertanyaan ini wajar, karena daun adalah “pabrik makanan” tanaman. Jika salah memangkas, fotosintesis bisa terganggu dan pembentukan tongkol tidak maksimal.

Artikel ini akan membahasnya secara ilmiah tapi mudah dipahami, berdasarkan jurnal pertanian, FAO, Balitbangtan, serta buku ajar perguruan tinggi pertanian di Indonesia.

 

Memahami Fase Pertumbuhan Jagung Umur 75 HST

Umur 75 HST umumnya menandai peralihan penting dalam pertumbuhan jagung:

  • Jagung sudah memasuki fase generatif awal
  • Tongkol mulai terbentuk dan berkembang
  • Kebutuhan energi dan nutrisi tanaman sangat tinggi

Menurut buku Fisiologi Tanaman Jagung (IPB & Universitas Brawijaya), pada fase ini:

  • Hasil fotosintesis daun langsung dialirkan ke tongkol
  • Gangguan pada daun dapat berdampak langsung pada ukuran dan bobot tongkol

Artinya, perlakuan terhadap daun di fase ini tidak boleh sembarangan.

 

Apa Fungsi Daun Bawah pada Tanaman Jagung?

Banyak yang mengira daun bawah sudah “tidak berguna”. Padahal secara ilmiah, daun bawah tetap memiliki fungsi.

Fungsi utama daun bawah jagung:

  • Melakukan fotosintesis tambahan, meski tidak seaktif daun tengah
  • Menyimpan dan menyalurkan hasil fotosintesis
  • Membantu keseimbangan energi tanaman

FAO dan berbagai jurnal fisiologi tanaman menjelaskan bahwa:

Selama daun masih hijau dan sehat, daun tersebut masih berkontribusi pada fotosintesis.

Jadi, daun bawah yang masih hijau belum bisa dianggap sebagai beban tanaman.

 

Pengaruh Pembuangan Daun Bawah terhadap Fotosintesis

Fotosintesis adalah proses tanaman membuat makanan dari cahaya matahari. Semakin banyak daun sehat, semakin besar potensi energi yang dihasilkan.

Dampak pembuangan daun bawah:

  • Mengurangi luas permukaan fotosintesis
  • Menurunkan produksi karbohidrat
  • Mengurangi suplai energi ke tongkol

Hasil penelitian dalam jurnal agronomi (misalnya Field Crops Research dan jurnal nasional terakreditasi) menunjukkan bahwa:

  • Defoliasi (pembuangan daun) berlebihan setelah pembungaan dapat menurunkan hasil jagung
  • Dampaknya makin besar jika daun yang dibuang masih hijau

Kesimpulan sementara:

Pembuangan daun bawah pada umur 75 HST berpotensi menurunkan fotosintesis, kecuali dilakukan secara selektif.

 

Dampak Pembuangan Daun Bawah terhadap Pembentukan Tongkol

Tongkol jagung sangat bergantung pada:

  • Hasil fotosintesis
  • Ketersediaan energi
  • Kondisi daun di sekitar tongkol

Menurut Balitbangtan dan buku produksi tanaman pangan:

  • Daun di sekitar tongkol adalah penyumbang utama pengisian biji
  • Daun bawah tetap memberi kontribusi meski lebih kecil

Jika daun bawah dibuang berlebihan:

  • Pengisian biji bisa terganggu
  • Tongkol berpotensi lebih kecil
  • Bobot 100 biji menurun

Belum ada data ilmiah yang pasti yang menyatakan bahwa pembuangan daun bawah secara rutin meningkatkan ukuran tongkol.

Namun, pengamatan lapangan di Indonesia menunjukkan bahwa pemangkasan selektif pada daun yang rusak tidak selalu menurunkan hasil.

 

Kapan Daun Bawah Jagung Boleh Dibuang?

Berdasarkan literatur dan rekomendasi penyuluhan pertanian:

Daun bawah boleh dibuang jika:

  • Sudah kuning, kering, atau mati
  • Terserang penyakit berat (bercak daun, hawar)
  • Menyentuh tanah dan berpotensi jadi sumber patogen
  • Mengganggu sirkulasi udara berlebihan pada kondisi lembap

Dalam kondisi ini, pembuangan daun justru membantu:

  • Mengurangi sumber penyakit
  • Menjaga kesehatan tanaman

 

Kapan Daun Bawah Jagung Sebaiknya Tidak Dibuang?

Daun bawah tidak disarankan dibuang jika:

  • Masih hijau dan sehat
  • Tanaman sedang mengisi tongkol aktif
  • Tidak ada serangan penyakit berat
  • Pemangkasan hanya bertujuan “biar rapi”

FAO dan buku agronomi menegaskan:

Setiap daun hijau masih berkontribusi pada hasil panen.

 

Kesalahan Umum Petani Saat Memangkas Daun Jagung

Beberapa kesalahan yang sering terjadi di lapangan:

  • Membuang terlalu banyak daun sekaligus
  • Memangkas daun sehat saat fase pengisian biji
  • Menggunakan alat kotor (menyebarkan penyakit)
  • Mengikuti kebiasaan tanpa dasar ilmiah

Kesalahan ini sering menyebabkan hasil tidak optimal, meski tanaman terlihat “bersih”.

 

Tips Aman Jika Harus Membuang Daun Bawah Jagung

Jika memang perlu dilakukan, ikuti tips berikut:

  • Pilih daun yang benar-benar kering atau sakit
  • Jangan buang lebih dari 1–2 daun bawah
  • Gunakan alat tajam dan bersih
  • Lakukan saat cuaca cerah
  • Hindari pemangkasan mendekati daun di sekitar tongkol

Pendekatan ini sejalan dengan praktik lapangan yang direkomendasikan Balitbangtan.

 

Kesimpulan

Pada umur 75 HST, jagung sedang fokus membentuk dan mengisi tongkol.

Secara ilmiah:

  • Daun bawah yang masih hijau masih berguna
  • Pembuangan daun berlebihan dapat menurunkan fotosintesis
  • Tidak ada bukti ilmiah kuat bahwa pembuangan daun bawah meningkatkan ukuran tongkol

Intinya:

Pangkas daun jagung hanya jika perlu, bukan karena kebiasaan.

 

FAQ (Pertanyaan yang Sering Ditanyakan)

Apakah pembuangan daun bisa meningkatkan ukuran tongkol?

Belum ada data ilmiah yang memastikan hal tersebut. Sebaliknya, defoliasi berlebihan justru berisiko menurunkan hasil.

Berapa jumlah daun minimal yang harus dipertahankan?

Literatur agronomi menyebutkan tanaman jagung idealnya mempertahankan daun hijau sebanyak mungkin, terutama di sekitar tongkol.

Apakah semua varietas jagung memiliki respon yang sama?

Tidak selalu. Varietas hibrida dan lokal bisa merespons berbeda, namun prinsip kebutuhan fotosintesis tetap sama.

Februari 26, 2026


EmoticonEmoticon