“Apakah boleh menyemprot herbisida saat padi keluar malai?”
Pertanyaan ini wajar. Di satu sisi, gulma masih tumbuh dan
mengganggu. Di sisi lain, tanaman padi sudah masuk fase kritis penentuan hasil.
Salah langkah sedikit saja, hasil panen bisa turun.
Artikel ini akan membahasnya secara jujur, ilmiah, dan mudah dipahami,
berdasarkan:
- Jurnal pertanian
- Rekomendasi IRRI
- Pedoman FAO
- Arahan Kementerian Pertanian RI / Balitbangtan
- Buku agronomi padi perguruan tinggi Indonesia
Apa yang Dimaksud Fase Keluar Malai pada Padi?
Keluar malai
adalah fase ketika:
- Tangkai malai mulai muncul dari pelepah daun
- Calon bulir padi sudah terbentuk
- Tanaman bersiap masuk fase berbunga dan pengisian gabah
Dalam istilah teknis, fase ini disebut:
- Heading stage (IRRI)
- Biasanya terjadi umur 60–80 HST, tergantung varietas
Bahasa sederhananya:
Padi sudah “hamil” dan siap membentuk gabah. Jadi sangat sensitif terhadap
gangguan.
Peran Daun dan Malai Saat Padi Keluar Malai
Pada fase keluar malai:
Daun bendera (daun paling
atas) berfungsi:
- Menghasilkan makanan (hasil fotosintesis)
- Menyuplai energi ke malai dan gabah
Malai padi:
- Tempat pembentukan bulir
- Sangat peka terhadap stres kimia dan lingkungan
Menurut IRRI dan FAO, lebih dari 70% hasil fotosintesis
pada fase ini langsung digunakan untuk:
- Pembentukan bulir
- Pengisian gabah
Jika daun atau malai terganggu, hasil panen pasti terdampak.
Apakah Boleh Menyemprot Herbisida Saat Padi Keluar Malai?
Jawaban singkatnya:
TIDAK dianjurkan.
Menurut:
- IRRI
- FAO
- Pedoman PHT Kementan
Aplikasi herbisida sebaiknya
dihentikan sebelum fase bunting (booting).
Namun, perlu jujur disampaikan:
Belum ada data ilmiah yang secara spesifik “mengizinkan”
herbisida diaplikasikan saat padi keluar malai.
Sebagian praktik lapangan dilakukan karena kondisi terpaksa,
bukan karena direkomendasikan
secara ilmiah.
Risiko Menyemprot Herbisida Saat Padi Keluar Malai
1. Risiko Fitotoksik pada Tanaman Padi
Fitotoksik
artinya racun bagi tanaman.
Gejala yang sering muncul:
- Daun bendera menguning atau terbakar
- Malai kering sebagian
- Bulir hampa (kosong)
Herbisida bekerja dengan:
- Mengganggu fotosintesis
- Menghambat pembelahan sel
- Mengacaukan metabolisme tanaman
Di fase malai, efek ini langsung menyerang hasil.
2. Penurunan Kualitas dan Bobot Gabah
Penelitian agronomi padi menunjukkan:
- Stres kimia saat heading–flowering
- Menurunkan berat 1.000 butir
- Meningkatkan gabah hampa
Dampak yang sering ditemui petani:
- Gabah ringan
- Rendemen beras turun
- Harga jual menurun
Risiko Residu dan Pelanggaran Aturan
Menurut FAO dan Codex Alimentarius:
- Aplikasi pestisida mendekati panen
- Meningkatkan risiko residu di gabah
Di Indonesia:
- Setiap herbisida punya PHI (Pre Harvest Interval)
- Jika dilanggar, berisiko:
- Tidak lolos uji residu
- Ditolak pasar tertentu
Jenis Herbisida yang Paling Berisiko di Fase Malai
Herbisida yang paling berisiko saat padi
keluar malai:
Herbisida sistemik
- Contoh: berbahan aktif yang diserap daun dan menyebar ke seluruh tanaman
Herbisida hormon
- Dapat menyebabkan malformasi malai
Herbisida dosis tinggi atau campuran (mix)
Menurut literatur IPB dan IRRI:
Tidak ada herbisida yang benar-benar aman untuk fase keluar
malai.
Aturan Aman Aplikasi Herbisida Jika Terpaksa Dilakukan
Catatan penting: bagian ini bukan rekomendasi, tetapi langkah mitigasi risiko
jika kondisi lapangan sangat terpaksa.
1. Syarat Kondisi Gulma
Herbisida hanya dipertimbangkan jika:
- Gulma sangat lebat
- Gulma masih muda
- Gulma benar-benar mengancam hasil panen
Jika gulma sudah tua → tidak efektif dan berisiko tinggi.
2. Pemilihan Bahan Aktif yang Lebih Aman
- Hindari herbisida sistemik kuat
- Hindari herbisida hormon
- Ikuti label resmi dan rekomendasi Kementan
Jika tidak ada keterangan aman di fase generatif:
Anggap tidak aman.
3. Teknik Aplikasi yang Disarankan
Jika terpaksa:
- Gunakan nozzle rendah
- Semprot di bawah kanopi daun
- Hindari kontak langsung dengan malai
- Jangan mencampur herbisida dengan pestisida lain
Alternatif Pengendalian Gulma Tanpa Herbisida
Menurut IRRI dan PHT Kementan,
alternatif yang lebih aman:
- Penyiangan manual terbatas
- Pengaturan tinggi air (water management)
- Menutup gulma dengan lumpur
- Pengendalian gulma sejak fase awal tanam
Pencegahan lebih murah
daripada koreksi di fase malai.
Kesalahan Umum Petani Terkait Herbisida di Fase Malai
Kesalahan yang sering terjadi:
- Menganggap “sedikit saja tidak apa-apa”
- Mencampur herbisida dengan insektisida
- Menyemprot saat cuaca panas
- Tidak membaca PHI di label
Padahal:
Sekali malai rusak, tidak
bisa diperbaiki.
Kesimpulan
- Menyemprot herbisida saat padi keluar malai tidak dianjurkan
- Risiko lebih besar daripada manfaat
- Dampak utama:
- Malai rusak
- Gabah hampa
- Residu berlebih
- Jika terpaksa, lakukan mitigasi risiko, bukan berharap aman
Prinsip dari IRRI dan FAO jelas:
Lindungi fase generatif padi, karena di situlah hasil ditentukan.
FAQ (Pertanyaan Umum)
1. Apa dampak herbisida terhadap malai padi?
Malai bisa kering, bulir hampa, dan hasil panen menurun.
2. Jika gulma parah, apa solusi paling aman?
Penyiangan manual terbatas dan pengaturan air, bukan
herbisida.
3. Apakah herbisida cair dan granul risikonya sama?
Risikonya tetap ada, terutama jika bahan aktif bersifat
sistemik.
4. Kapan waktu terakhir aman menggunakan herbisida di padi?
Umumnya sebelum fase bunting (booting),
sesuai label dan rekomendasi resmi.

EmoticonEmoticon