Kenapa Padi Gogo Butuh PGPR?
Teman-teman petani pasti tahu, menanam padi gogo tidak semudah
padi sawah.
Padi gogo biasanya ditanam di lahan kering atau tadah hujan,
seperti di perbukitan, tegalan, atau bekas kebun karet. Tantangannya besar: air
terbatas, tanah keras, dan nutrisi kadang rendah.
Nah, di sinilah bakteri PGPR (Plant
Growth-Promoting Rhizobacteria) bisa membantu.
Bakteri ini bekerja di sekitar akar tanaman untuk memacu pertumbuhan, meningkatkan penyerapan nutrisi,
dan membuat tanaman lebih tahan stres lingkungan.
Penelitian dari Balitbangtan Kementerian
Pertanian RI (2020) menyebutkan, penggunaan PGPR pada padi gogo
dapat meningkatkan hasil hingga 10–25%
tergantung kondisi lahan.
Jadi, mari kita pelajari bagaimana cara aplikasinya yang
benar dan efektif!
Apa Itu Bakteri PGPR?
PGPR adalah
singkatan dari Plant Growth-Promoting Rhizobacteria,
yaitu kelompok bakteri “baik” yang hidup di sekitar akar tanaman.
Sederhananya, PGPR itu seperti “teman akrab” akar tanaman —
mereka membantu akar bekerja lebih efisien dan menjaga tanaman tetap sehat.
Menurut FAO (Food and Agriculture
Organization) dan IRRI (International Rice
Research Institute), PGPR dapat:
- Menghasilkan hormon tumbuh alami seperti auksin dan sitokinin.
- Melarutkan unsur hara penting seperti fosfor dan kalium agar lebih mudah diserap.
- Menghambat pertumbuhan jamur atau bakteri patogen di sekitar akar.
- Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan dan penyakit akar.
Beberapa contoh spesies bakteri PGPR yang sering digunakan:
- Bacillus subtilis
- Pseudomonas fluorescens
- Azospirillum sp.
- Azotobacter sp.
Manfaat PGPR pada Tanaman Padi Gogo
Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan manfaat nyata
PGPR, antara lain:
1. Meningkatkan pertumbuhan akar dan batang
Akar lebih panjang dan banyak serabutnya, sehingga mampu
menyerap air dan hara lebih efisien.
2. Meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan.
Sangat cocok untuk padi gogo di lahan kering atau curah hujan
rendah.
3. Meningkatkan efisiensi pupuk kimia.
Dengan PGPR, penyerapan unsur N, P, dan K menjadi lebih
baik, jadi dosis pupuk bisa dikurangi 20–30%.
4. Meningkatkan hasil panen.
Studi oleh Universitas Sebelas Maret
(2021) menunjukkan bahwa kombinasi PGPR dengan pupuk organik
meningkatkan hasil gabah padi gogo hingga 6,8
ton/ha, dibanding kontrol hanya 5,4
ton/ha.
Persiapan Sebelum Aplikasi PGPR
Sebelum menggunakan PGPR, perhatikan hal-hal berikut:
1. Gunakan benih sehat – pilih varietas unggul padi gogo (misalnya Inpago 8, Inpago 12, atau Situ Bagendit).
2. Pastikan lahan bersih dan gembur – karena PGPR hidup di tanah, tanah harus berpori agar bakteri bisa berkembang.
3. Gunakan air bersih (tidak berklorin) saat mencampur PGPR.
4. Cek masa aktif bakteri – pastikan produk PGPR belum kedaluwarsa.
5. Hindari sinar matahari langsung saat menyiapkan larutan PGPR, karena suhu tinggi bisa mematikan bakteri.
Cara Membuat Larutan PGPR (Jika Buatan Sendiri)
Kalau kamu ingin membuat PGPR sendiri dari bahan lokal,
berikut cara umumnya:
Bahan dasar:
- 1 liter air bersih
- 50 ml kultur PGPR aktif (bisa dari bambu, akar bambu, atau sumber lokal lain)
- 2 sendok makan gula merah cair atau molase (sebagai makanan bakteri)
- 100 ml air cucian beras
Cara membuat:
- 1. Campur semua bahan dalam wadah plastik atau jerigen bersih.
- 2. Tutup rapat, beri lubang kecil di tutup agar gas keluar.
- 3. Fermentasikan 5–7 hari di tempat teduh.
- 4. Setelah jadi, cairan beraroma asam segar siap digunakan.
Catatan:
Belum ada standar nasional baku untuk dosis PGPR buatan lokal. Jadi, sebaiknya
uji dulu di lahan kecil untuk melihat respon tanaman. (Kementan RI, 2021)
Cara Aplikasi PGPR pada Tanaman Padi Gogo
Berikut empat cara utama aplikasi PGPR yang bisa dilakukan
di lapangan:
a. Aplikasi pada Benih (Perendaman)
- Rendam benih padi gogo dalam larutan PGPR (1:10) selama 1 jam.
- Keringanginkan benih, lalu tanam seperti biasa.
Tujuannya agar bakteri langsung menempel di kulit benih dan
membantu perkecambahan.
b. Aplikasi pada Tanaman Muda
- Saat umur 10–15 hari setelah tanam, siram larutan PGPR di pangkal batang.
- Dosis: sekitar 100 ml per rumpun atau sesuai kebutuhan.
- Ulangi setiap 10–15 hari.
c. Aplikasi Penyemprotan Daun
- Larutkan PGPR dengan air (1:10) lalu semprotkan ke seluruh bagian tanaman saat pagi atau sore hari.
- Ulangi 2–3 kali selama fase vegetatif.
Tujuannya untuk meningkatkan fotosintesis dan ketahanan
tanaman terhadap stres lingkungan.
d. Aplikasi di Lahan atau Tanah
- Campurkan PGPR dalam air irigasi atau semprot langsung di permukaan tanah sekitar akar.
- Waktu terbaik: sebelum tanam atau saat fase awal pertumbuhan akar.
Waktu Terbaik untuk Aplikasi PGPR
Berdasarkan penelitian dari Balai
Penelitian Tanah (Balittanah, 2020), waktu yang disarankan
adalah:
- Perendaman benih: sebelum tanam.
- Aplikasi pertama: umur 7–10 hari setelah tanam.
- Aplikasi kedua: umur 21–28 hari setelah tanam.
- Aplikasi ketiga (opsional): menjelang pembungaan.
Hindari aplikasi saat hujan lebat karena bakteri bisa
hanyut, dan hindari pula siang terik karena sinar UV dapat menurunkan aktivitas
PGPR.
Hal yang Perlu Diperhatikan
- Jangan mencampur PGPR dengan pestisida kimia saat penyemprotan.
- Gunakan air sumur atau air sungai yang tidak mengandung kaporit.
- Simpan PGPR di tempat teduh, suhu 20–30°C.
- Jika PGPR buatan sendiri berbau busuk menyengat, berarti fermentasi gagal.
Ciri-Ciri PGPR Berhasil Bekerja
Tanda-tanda PGPR mulai bekerja bisa dilihat dalam 1–2
minggu:
- Akar tumbuh lebih banyak dan panjang.
- Daun lebih hijau, tanaman tampak lebih subur.
- Anakan padi muncul lebih banyak dan seragam.
- Tanaman lebih tahan kekeringan atau tidak mudah layu.
Pada panen, biasanya berat gabah kering naik 10–20%
dibanding tanpa PGPR. (Sumber: Litbang Pertanian RI, 2021)
Kombinasi PGPR dengan Pupuk Organik
Gabungkan PGPR dengan pupuk kandang, kompos, atau
pupuk hayati lainnya.
Manfaatnya:
- Pupuk organik memperbaiki struktur tanah, PGPR membantu “mengaktifkan” nutrisinya.
- Efisiensi hara meningkat hingga 30–40%.
- Tanah jadi lebih gembur dan berisi mikroba baik.
Kombinasi ini sangat cocok untuk pertanian organik atau semi
organik di lahan padi gogo.
Keuntungan Ekonomi bagi Petani
Berdasarkan penelitian lapangan oleh Balitbangtan (2022):
- Penggunaan PGPR bisa mengurangi biaya pupuk kimia 20–30%.
- Produktivitas meningkat rata-rata 0,5–1 ton/ha.
- Keuntungan bersih bisa naik Rp2–4 juta per hektar dibanding sistem konvensional.
Selain itu, penggunaan PGPR juga membantu menjaga kesehatan
tanah jangka panjang — investasi alami bagi kesuburan lahan.
Kesimpulan
PGPR adalah mitra alami akar tanaman
yang sangat berguna, terutama di lahan kering seperti sistem padi gogo.
Dengan aplikasi yang benar — mulai dari perendaman benih,
penyiraman akar, hingga semprot daun — petani bisa mendapatkan tanaman yang
lebih kuat, hemat pupuk, dan hasil panen lebih tinggi.
Bakteri PGPR bukan “obat ajaib”, tapi bagian dari pertanian cerdas dan ramah
lingkungan.
Cobalah di lahan kecil dulu, amati hasilnya, dan nikmati
manfaatnya di musim tanam berikutnya.

EmoticonEmoticon