Cara Mengatasi Jamur di Sela-Sela Bibit di Tanaman Padi

Gambar tiga jenis jamur penyebab penyakit akar pada tanaman, yaitu Rhizoctonia solani, Pythium spp., dan Fusarium spp. Masing-masing ditampilkan dengan bentuk khas dan warna berbeda pada latar krem alami. Ilustrasi ini digunakan untuk edukasi penyakit tanaman seperti busuk akar dan rebah semai.

Halo Sobat Tani Agriculture Gen Z

Pernah melihat bibit padi muda yang batangnya berubah warna, lembek, atau muncul jamur putih di sela-selanya? Kalau iya, kemungkinan bibit padi kamu terserang jamur di sela-sela bibit — masalah umum di persemaian padi yang bisa bikin tanaman gagal tumbuh kuat.

Masalah jamur ini sering muncul saat persemaian terlalu lembap, sirkulasi udara buruk, atau benih tidak steril. Akibatnya, bibit mudah rebah, busuk, bahkan mati sebelum ditanam ke sawah.

Nah, dalam artikel ini kita akan bahas penyebab, ciri, cara mengatasi, hingga langkah pencegahannya berdasarkan data ilmiah dari sumber terpercaya seperti FAO, IRRI, Balitbangtan, dan berbagai jurnal pertanian. Yuk, simak sampai tuntas biar bibit padi kamu tumbuh sehat dan siap panen!


Apa Itu Jamur di Sela-Sela Bibit Padi?

Istilah “jamur di sela-sela bibit” menggambarkan kondisi ketika bibit padi terserang jamur tanah atau jamur pembawa benih pada bagian pangkal batang atau akar. Biasanya jamur ini berkembang di kondisi lembap dan tergenang, terutama saat bibit masih muda di persemaian.

Beberapa jamur yang sering menyerang bibit padi menurut IRRI (International Rice Research Institute) dan Balitbangtan Kementan RI, antara lain:

  • Rhizoctonia solani (penyebab rebah semai / seedling blight)
  • Pythium spp. (penyebab busuk akar dan batang muda)
  • Fusarium spp. (penyebab busuk batang awal)

Jamur-jamur ini hidup di tanah atau terbawa benih, lalu tumbuh subur kalau kelembapan tinggi dan udara kurang bergerak.


Ciri-Ciri Bibit Padi Terserang Jamur

Ciri-ciri jamur di sela-sela bibit bisa kamu amati langsung di persemaian, di antaranya:

  • Pangkal batang berubah warna — biasanya coklat, kehitaman, atau keabu-abuan.
  • Muncul benang putih halus (miselium jamur) di sela batang atau akar.
  • Bibit tumbuh lambat, kurus, dan mudah roboh.
  • Akar busuk dan pendek, tidak mampu menyerap air dengan baik.
  • Bila parah — bibit mati dan mengering sebelum sempat dipindah tanam.

Menurut penelitian IRRI (2020), serangan jamur pada fase semai bisa menurunkan jumlah bibit siap tanam hingga 30–50% bila tidak segera diatasi.


Penyebab Munculnya Jamur di Sela-Sela Bibit

Jamur tidak muncul begitu saja. Berikut faktor-faktor pemicunya yang umum di lapangan:

1. Benih terinfeksi jamur sejak awal

Berdasarkan laporan FAO (2022), benih yang disimpan di tempat lembap bisa membawa spora jamur seperti Fusarium dan Rhizoctonia.

2. Media persemaian terlalu lembap atau becek

Kondisi tanpa drainase baik dan suhu hangat sangat ideal bagi jamur berkembang.

3. Sirkulasi udara buruk dan bibit terlalu rapat

Bibit yang ditabur rapat membuat uap air tertahan, menimbulkan kondisi lembap permanen.

4. Tanah bekas tanam tanpa sterilisasi

Tanah yang masih mengandung sisa akar atau jerami bisa menyimpan spora jamur.

5. Kelebihan nitrogen (N)

Menurut Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitbangtan, 2021), pemberian pupuk N berlebihan pada bibit memperlemah jaringan batang, sehingga jamur lebih mudah menembus.


Dampak Jamur bagi Bibit Padi

Serangan jamur di sela-sela bibit bukan hal sepele. Berikut dampaknya:

  • Bibit tumbuh lemah, mudah roboh, dan jumlah anakan berkurang.
  • Pertumbuhan akar terganggu → penyerapan air dan nutrisi menurun.
  • Saat dipindah ke sawah, tanaman mudah stres dan pertumbuhannya tidak seragam.
  • Dalam kasus berat, bisa menyebabkan gagal semai hingga 70% (IRRI, 2021).


Cara Mengatasi Jamur di Sela-Sela Bibit Padi

A. Secara Alami (Tanpa Bahan Kimia)

Langkah alami aman untuk lingkungan dan cocok untuk petani organik:

1. Gunakan benih bersih dan sehat

Pilih benih bersertifikat dari Balai Benih atau rendam benih dalam air hangat 50 °C selama 10–15 menit, lalu segera dinginkan. Cara ini terbukti efektif membunuh jamur yang menempel di benih.

2. Sterilkan media persemaian

Keringkan tanah atau semprot dengan air panas sebelum digunakan kembali. Hindari memakai tanah bekas persemaian yang lama.

3. Atur jarak dan drainase

Tabur benih tidak terlalu rapat dan buat saluran kecil agar air tidak menggenang.

4. Gunakan agen hayati seperti PGPR atau Trichoderma

Menurut penelitian dari Universitas Brawijaya (2022), bakteri PGPR dan jamur antagonis Trichoderma harzianum mampu menekan pertumbuhan jamur penyebab busuk batang hingga 60%.

5. Penyinaran pagi dan sirkulasi udara baik

Bibit yang terkena sinar pagi lebih kuat dan tidak mudah diserang jamur.

B. Secara Kimia (Jika Serangan Parah)

Jika jamur sudah menyebar luas, tindakan kimia bisa dilakukan dengan hati-hati:

  • Perendaman benih dengan fungisida sistemik seperti metalaxyl + propamocarb, sesuai dosis anjuran.
  • (Penelitian Liu et al., Journal of Fungi, 2022 menunjukkan kombinasi ini efektif menekan Pythium aristosporum penyebab seedling blight.)
  • Penyemprotan ringan di media persemaian bila muncul gejala awal, dengan mengikuti petunjuk label dan masa aman tanam.
  • Hindari penggunaan berlebihan agar mikroba tanah tetap seimbang.


Langkah Pencegahan Agar Jamur Tidak Muncul Lagi

Mencegah lebih mudah daripada mengobati. Berikut langkah-langkah pencegahannya:

  • Gunakan benih unggul bebas patogen.
  • Gemburkan dan sterilkan tanah persemaian sebelum digunakan.
  • Hindari kelembapan berlebih dan genangan air.
  • Jaga keseimbangan pupuk, jangan kelebihan nitrogen.
  • Bersihkan sisa jerami dan akar padi lama.
  • Lakukan rotasi tanaman bila memungkinkan.
  • Gunakan PGPR atau Trichoderma sejak awal semai.

Menurut hasil uji Balitbangtan Sukamandi (2021), persemaian yang menggunakan PGPR alami menunjukkan tingkat serangan jamur 50% lebih rendah dibanding tanpa PGPR.


Kombinasi dengan Bakteri PGPR

PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) adalah bakteri baik yang hidup di sekitar akar tanaman.

Menurut Research Journal of Agriculture and Biological Sciences (2019), PGPR dapat:

  • Menekan pertumbuhan jamur patogen seperti Rhizoctonia solani.
  • Meningkatkan daya tahan bibit terhadap stres.
  • Merangsang pertumbuhan akar dan vigor tanaman muda.

Kombinasikan PGPR dengan pengelolaan persemaian yang baik — hasilnya bukan cuma bebas jamur, tapi juga bibit tumbuh lebih cepat dan kuat.


Waktu dan Kondisi Ideal untuk Pengendalian Jamur

Waktu terbaik:

  • Saat benih baru mulai disemai hingga umur 10 hari, karena fase ini paling rentan.
  • Lakukan perawatan rutin pagi atau sore hari agar media tidak terlalu basah.

Kondisi ideal:

  • Suhu 25–30 °C, kelembapan sekitar 60–70%.
  • Hindari persemaian tertutup plastik terlalu lama karena meningkatkan uap air.


Tanda-Tanda Bibit Sudah Pulih

  • Daun kembali hijau segar dan tegak.
  • Pangkal batang keras, tidak lembek.
  • Akar banyak dan berwarna putih.
  • Bibit tidak mudah roboh saat disiram.

Kalau tanda-tanda ini sudah muncul, bibit siap dipindah ke sawah dan tumbuh optimal!


Kesimpulan

Jamur di sela-sela bibit padi memang sering dianggap sepele, padahal bisa menurunkan hasil panen secara signifikan.

Kuncinya ada di kebersihan benih, kondisi persemaian, dan pengamatan rutin.

Mulailah dengan benih yang sehat, media kering, ventilasi cukup, serta tambahan PGPR agar bibit kuat sejak awal.

Ingat, bibit yang sehat adalah setengah dari keberhasilan panen.

Desember 01, 2025


EmoticonEmoticon