7 Cara Meninggikan Tanaman Jagung agar Cepat Tumbuh dan Batangnya Kuat

Infografis berisi tujuh cara meningkatkan tinggi tanaman jagung: pemupukan nitrogen tepat, penggunaan bibit unggul, olah tanah maksimal, penyiraman cukup, pemberian pupuk daun, pengendalian hama akar dan batang, serta pembumbunan untuk memperkuat batang. Ilustrasi menampilkan gambar jagung di tengah, ikon pupuk urea, bibit, cangkul, penyiram air, hama akar, dan tanaman yang dibumbun
Banyak petani mengeluhkan tanaman jagung yang tumbuh pendek, kerdil, atau batangnya lemah. Padahal, tinggi tanaman jagung sangat menentukan jumlah daun, ukuran tongkol, dan potensi hasil. Menurut laporan FAO, pertumbuhan vegetatif jagung—termasuk tinggi tanaman—sangat dipengaruhi kesuburan tanah, ketersediaan nitrogen (N), dan kondisi air.

Dalam artikel ini, kita bahas 7 cara paling efektif untuk meninggikan tanaman jagung berdasarkan sumber ilmiah dan pengalaman lapangan di Indonesia, dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami semua pembaca.


Penyebab Umum Tanaman Jagung Tidak Tinggi

1. Kekurangan Nitrogen

Nitrogen adalah unsur yang bertugas membentuk batang, daun, dan klorofil. Penelitian Balitbangtan menunjukkan bahwa kekurangan N menyebabkan tanaman jagung kerdil, daun pucat, dan pertumbuhan lambat.

2. Bibit Kurang Berkualitas

Benih yang sudah disimpan lama atau tidak bersertifikat sering menunjukkan vigor rendah sehingga pertumbuhannya lambat.

3. Tanah Miskin Unsur Hara atau Terlalu Padat

Tanah padat membuat akar sulit memanjang. Akar yang pendek menyebabkan batang ikut terhambat.

4. Kelebihan Air atau Kekeringan

FAO menjelaskan bahwa jagung membutuhkan kelembaban cukup, tetapi tidak tahan genangan karena akarnya mudah busuk.

5. Serangan Hama Akar dan Batang

Hama seperti ulat tanah dan penggerek batang dapat merusak jaringan akar dan batang sehingga tanaman sulit tumbuh tinggi.


Cara 1: Beri Pupuk Nitrogen Secara Tepat

1. Jenis Pupuk Nitrogen yang Cocok

Berdasarkan rekomendasi Kementerian Pertanian RI dan penelitian IPB:

  • Urea (46% N)
  • ZA (21% N + Sulfur)
  • NPK dengan kandungan N tinggi

2. Waktu Aplikasi

Kementan merekomendasikan pemberian N:

  • Pertama: umur 7–10 HST
  • Kedua: umur 25–30 HST

Ini adalah fase ketika tanaman butuh N untuk memanjangkan batang.

3. Cara Aplikasi

  • Tanam pupuk 5–7 cm dari batang agar tidak menguap.
  • Hindari menabur di permukaan karena N mudah hilang.
  • Campurkan dengan tanah untuk memaksimalkan penyerapan.


Cara 2: Gunakan Bibit Berkualitas dan Tahan Stres

1. Ciri Benih Unggul

Balitbangtan merekomendasikan benih berlabel (biru/ungu) dengan ciri:

  • Daya kecambah ≥ 80%
  • Ukuran biji seragam
  • Bebas jamur dan kerusakan mekanis

2. Hindari Benih yang Sudah Lama Disimpan

Benih jagung yang disimpan lama (>8–12 bulan tanpa ruang terkendali) biasanya mengalami penurunan vigor.


Cara 3: Lakukan Olah Tanah Maksimal Sebelum Tanam

1. Tanah Gembur Membuat Akar Memanjang

Tanah gembur memungkinkan akar “bernapas” dan memanjang lebih cepat. IRRI dan FAO menegaskan bahwa struktur tanah adalah kunci utama pertumbuhan akar.

2. Tambahkan Kompos atau Pupuk Kandang

Kompos membantu:

  • Menggemburkan tanah
  • Menambah bahan organik
  • Memperbaiki retensi air

3. Hindari Menanam di Tanah Sangat Asam

pH ideal untuk jagung: 5,5–7,0

Balitbangtan mencatat bahwa pH terlalu rendah (<5) menghambat serapan N dan P.


Cara 4: Siram Secukupnya dan Hindari Genangan

1. Dampak Kekurangan Air

Menurut FAO, kekeringan menyebabkan tanaman:

  • Mengalami stres
  • Pertumbuhan terhambat
  • Daun menggulung dan batang pendek

2. Dampak Kelebihan Air

Genangan menyebabkan akar busuk, terutama di fase awal pertumbuhan.

3. Waktu Penyiraman Terbaik

  • Pagi atau sore hari
  • Utamakan fase kritis: umur 0–30 HST dan 45–55 HST (menjelang pembungaan)


Cara 5: Tambahkan Pupuk Daun untuk Menstimulasi Pertumbuhan

1. Pupuk Daun yang Cocok

Gunakan pupuk daun yang mengandung:

  • Nitrogen (N)
  • Magnesium (Mg)
  • Unsur mikro seperti Zn dan B

Catatan: Belum ada data ilmiah pasti mengenai pupuk daun yang paling cepat meninggikan jagung, namun berdasarkan banyak praktik lapangan, pupuk daun N tinggi membantu merangsang pertumbuhan vegetatif.

2. Waktu Penyemprotan

  • 10–15 HST
  • 20–25 HST

Hindari penyemprotan saat matahari terik.


Cara 6: Kendalikan Hama Akar dan Batang Sejak Awal

1. Hama yang Membuat Jagung Tidak Tinggi

Berdasarkan data Kementan:

  • Ulat tanah (Agrotis sp.) – memotong pangkal batang
  • Penggerek batang (Ostrinia furnacalis) – merusak jaringan dalam batang
  • Rayap tanah – memakan akar dan jaringan lunak

2. Pengendalian yang Disarankan

  • Gunakan pestisida sesuai rekomendasi label dari Kementan
  • Lakukan sanitasi lahan
  • Gunakan perangkap feromon untuk penggerek (data dari Balitbangtan)
  • Pengamatan rutin 7 hari sekali


Cara 7: Lakukan Pembumbunan untuk Memperkuat Batang

1. Manfaat Pembumbunan

Menurut Balitbangtan, pembumbunan membantu:

  • Memperkuat akar
  • Membuat batang lebih tegak
  • Mendorong pertumbuhan anakan akar baru
  • Mengurangi risiko rebah (lodging)

2. Waktu Pembumbunan Terbaik

  • Umur 20–30 HST
  • Ulangi jika perlu pada umur 35–40 HST


Kesalahan Umum yang Membuat Jagung Tidak Tinggi

  • Menanam terlalu rapat (ideal 75 cm × 20 cm)
  • Pemupukan terlambat
  • Pupuk hanya ditabur di permukaan
  • Tidak melakukan pengamatan hama sejak awal
  • Menggunakan benih tanpa sertifikat


Tips Tambahan Agar Jagung Tumbuh Optimal

1. Gunakan Mulsa Organik

Mulsa menjaga kelembapan tanah dan suhu tetap stabil.

2. Rotasi Tanaman

FAO menyarankan rotasi untuk mencegah penumpukan hama dan penyakit.

3. Berikan Unsur Mikro

  • Zn: penting untuk pembentukan hormon pertumbuhan
  • Mg: membantu fotosintesis
  • B: mendukung pembelahan sel


Kesimpulan

Tinggi tanaman jagung sangat dipengaruhi oleh pupuk nitrogen, kualitas benih, kondisi tanah, ketersediaan air, dan serangan hama. Dengan menerapkan 7 cara di atas—mulai dari pemupukan tepat waktu, olah tanah maksimal, sampai pembumbunan—petani bisa meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan menghasilkan jagung yang sehat serta batangnya kuat.

Artikel ini menggunakan data dari FAO, Kementerian Pertanian RI, Balitbangtan, dan ringkasan penelitian universitas pertanian Indonesia. Semua langkah bisa diterapkan di lahan kecil, sawah, maupun kebun rumahan.


Januari 14, 2026


EmoticonEmoticon