Pada umur sekitar 20 Hari Setelah Tanam (20 HST), tanaman jagung masih berada pada fase awal pertumbuhan. Pada fase ini, gulma biasanya tumbuh cepat dan mulai bersaing merebut nutrisi. Banyak petani ingin melakukan penyemprotan herbisida pada umur ini, tetapi masih ragu: bahan aktif apa yang aman untuk jagung muda?
Artikel ini menyajikan penjelasan berdasarkan sumber ilmiah
seperti publikasi FAO, IRRI, jurnal agronomi, serta rekomendasi dari
Kementerian Pertanian dan universitas pertanian Indonesia. Bahasa dibuat ringan
agar mudah dipahami siapa saja—petani tradisional, petani milenial, mahasiswa,
maupun penghobi tanaman.
Kenapa Jagung 20 HST Perlu Perlakuan Khusus?
1. Kondisi Tanaman pada Umur 20 HST
Secara umum, menurut literatur fisiologi tanaman di berbagai
universitas pertanian Indonesia (IPB, UGM, UB), jagung pada umur 15–25 HST
berada pada fase:
- Pertumbuhan vegetatif cepat
- Pembentukan akar serabut yang aktif menyerap nutrisi
- Daun mulai melebar dan sangat sensitif terhadap bahan kimia
Fase ini disebut periode “kritik terhadap gulma”, karena
gulma yang dibiarkan dapat menurunkan hasil signifikan.
2. Risiko Kesalahan Herbisida pada Umur Ini
Jika salah memilih bahan aktif pada umur muda, berdasarkan
laporan lapangan Balitbangtan dan penelitian agronomi:
- Daun jagung bisa menguning
- Tepi daun terbakar (leaf burn)
- Pertumbuhan kerdil
- Bahkan mati pucuk pada kasus keracunan berat
Karena itu, pilihan bahan aktif harus sangat hati-hati.
Jenis Gulma yang Umum Muncul pada Umur 20 HST
1. Gulma Daun Lebar
Umumnya ditemukan di lahan jagung Indonesia:
- Babadotan (Ageratum conyzoides)
- Bayam liar (Amaranthus sp.)
- Maman ungu (Cleome sp.)
- Sida-sidaan (Sida acuta)
2. Gulma Rumputan
Yang sering mendominasi:
- Rumput teki (Cyperus rotundus)
- Rumput belulang (Eleusine indica)
- Digitaria sp.
- Echinochloa sp.
Bahan Aktif Herbisida yang Aman untuk Jagung Umur 20 HST
Berikut bahan aktif yang umumnya direkomendasikan dalam literatur
dan banyak digunakan dalam budidaya jagung. Semua penjelasan ini dibuat
berdasarkan rujukan dari jurnal agronomi, publikasi FAO/IRRI, serta rekomendasi
teknis Kementan.
1. Nicosulfuron
- Termasuk kelompok sulfonylurea, selektif untuk jagung.
- Banyak penelitian internasional menunjukkan jagung cukup toleran terhadap nicosulfuron pada fase vegetatif.
- Bekerja menghambat pertumbuhan gulma rumputan dan beberapa gulma daun lebar.
2. Foramsulfuron + Iodosulfuron
- Kombinasi bahan aktif sulfonylurea yang selektif untuk jagung.
- Efektif untuk gulma rumputan dan daun lebar muda.
- Banyak direkomendasikan dalam program post-emergence pada jagung dalam literatur universitas pertanian.
3. Mesotrione
- Termasuk kelompok HPPD inhibitor.
- Menurut publikasi FAO, mesotrione cukup aman untuk jagung pada fase awal vegetatif, termasuk sekitar 20 HST.
- Efektif untuk gulma daun lebar.
4. Atrazin (Dosis Rendah)
- Digunakan sangat luas selama beberapa dekade dalam produksi jagung.
- Selektif untuk jagung, tetapi harus dalam dosis rendah untuk menghindari efek layu sementara.
5. Dicamba (Dosis Sangat Rendah)
- Literatur menunjukkan dicamba selektif untuk tanaman jagung.
- Namun sensitivitas meningkat jika cuaca panas atau tanaman sedang stres.
- Karena itu hanya aman pada dosis rendah dan kondisi tanaman sehat.
Bahan Aktif yang Harus Dihindari pada Jagung 20 HST
1. Paraquat / Gramoxone
- Bekerja sebagai contact herbicide yang membakar jaringan hijau.
- Tidak selektif untuk jagung.
- Literatur FAO secara jelas menyebutkan paraquat tidak aman untuk tanaman muda.
2. Glyphosate
- Bersifat non-selektif dan dapat menyebabkan kerusakan parah pada jagung.
- Aman hanya pada teknologi khusus herbicide-tolerant corn, yang tidak digunakan pada varietas jagung umum di Indonesia.
3. 2,4-D
- Menurut banyak penelitian, 2,4-D bisa menyebabkan daun jagung “melintir” dan tumbuh abnormal.
- Tidak direkomendasikan pada umur 20 HST karena risiko fitotoksisitas sangat tinggi.
Rekomendasi Dosis Aman
Catatan: Dosis berikut berdasarkan rentang yang umum
ditulis pada jurnal dan rekomendasi teknis pertanian. Formulasi
setiap produk bisa berbeda, jadi petani tetap wajib mengikuti label produk.
1. Nicosulfuron
- Rentang umum: 20–40 g bahan aktif/ha
(Belum ada data tunggal pasti, karena setiap formulasi
berbeda.)
2. Foramsulfuron + Iodosulfuron
- Rentang umum: 30–50 g bahan aktif/ha
3. Mesotrione
- Rentang umum: 100–150 g bahan aktif/ha
4. Atrazin
- Rentang aman (rendah): 0.5–1 kg bahan aktif/ha
(Literatur menyebutkan risiko fitotoksik meningkat pada
dosis lebih tinggi.)
Cara Aplikasi yang Tepat agar Jagung Tidak Stress
1. Kondisi Ideal Penyemprotan
- Cuaca cerah berawan
- Tidak hujan 6–8 jam setelah aplikasi
- Tanaman tidak sedang layu
- Tidak terlalu panas (hindari >33°C)
2. Teknik Penyemprotan
- Gunakan nozzle tipe kipas (flat fan) untuk distribusi merata
- Tekanan 15–20 psi
- Penutupan gulma minimal 70% daun
- Jarak sprayer stabil (40–50 cm di atas permukaan gulma)
3. Hal yang Perlu Dihindari
- Jangan mencampur herbisida dengan pupuk daun secara sembarangan
- Jangan menggunakan air yang terlalu keruh
- Jangan menyemprot saat angin kencang
- Hindari dosis berlebih “biar cepat mati”—ini berisiko meracuni jagung
Tanda Jagung Terkena Keracunan Herbisida
- Daun muda menggulung
- Muncul bercak putih
- Daun menguning dari ujung
- Pertumbuhan terhambat
- Pucuk bengkok/terpuntir
- Pada kasus berat: daun seperti terbakar
Jika muncul gejala, hentikan aplikasi dan beri tanaman
kesempatan pulih, misalnya dengan menjaga kelembaban tanah dan pemupukan
ringan.
Tips Petani agar Pengendalian Gulma Lebih Efektif
- Lakukan penyiangan awal 10–15 HST
- Gunakan mulsa atau sisa organik bila memungkinkan
- Rotasi bahan aktif untuk mencegah resistensi
- Ikuti dosis label produk
- Cuci tangki semprot agar tidak ada sisa herbisida keras
Kesimpulan
Penggunaan bahan aktif herbisida yang aman untuk jagung
umur 20 HST sangat penting agar tanaman tetap sehat dan tidak
mengalami stres. Berdasarkan literatur ilmiah dan pengalaman lapangan, bahan
aktif seperti nicosulfuron,
foramsulfuron + iodosulfuron, mesotrione, dan atrazin dosis rendah
merupakan pilihan paling aman untuk umur ini. Sementara bahan seperti paraquat, glyphosate, dan
2,4-D sebaiknya dihindari karena risikonya
sangat tinggi.
Dengan pemilihan dosis yang tepat, teknik aplikasi yang
benar, serta perawatan tanaman yang baik, petani bisa mengendalikan gulma
secara efektif tanpa mengorbankan pertumbuhan jagung.

EmoticonEmoticon