Jawabannya tidak selalu hitam putih. Ada
jagung yang masih bisa menghasilkan tongkol, tapi ada juga yang sudah tidak mungkin
diselamatkan. Artikel ini membahasnya secara lengkap dan mudah
dipahami, berdasarkan referensi ilmiah, laporan FAO, Balitbangtan,
serta praktik lapangan di Indonesia.
Jenis Ulat yang Umum Menyerang Tanaman Jagung
Beberapa jenis ulat yang paling sering menjadi penyebab
kerusakan jagung adalah:
Ulat Grayak Jagung (Spodoptera frugiperda)
- Dikenal juga sebagai Fall Armyworm
- Menyerang daun, pucuk, dan titik tumbuh
- Menurut FAO dan Kementerian Pertanian RI, hama ini bisa menurunkan hasil 20–70% pada serangan berat
Ulat Grayak Biasa (Spodoptera litura)
- Menyerang daun muda hingga tua
- Aktif malam hari
- Sering menyebabkan daun berlubang dan tersisa tulang daun
Ulat Penggerek Batang (Ostrinia furnacalis)
- Masuk ke batang dan tongkol
- Mengganggu aliran nutrisi tanaman
- Dampaknya sering tidak terlihat dari luar, tapi hasil turun drastis
Catatan ilmiah:
FAO dan Balitbangtan mencatat bahwa Spodoptera frugiperda adalah
ancaman utama jagung di Asia Tenggara sejak 2019.
Bagian Tanaman Jagung yang Paling Rentan Diserang Ulat
Tidak semua bagian jagung punya risiko yang sama. Yang
paling krusial adalah:
- Daun muda (fase vegetatif awal)
- Pucuk / titik tumbuh (whorl)
- Batang bagian dalam
- Calon tongkol
Istilah sederhana:
Titik tumbuh
adalah “pusat kehidupan” tanaman. Kalau rusak parah, tanaman sulit pulih.
Tingkat Serangan Ulat pada Tanaman Jagung
Serangan Ringan
- Daun berlubang kecil
- Pucuk masih utuh
- Tanaman tetap hijau dan tumbuh normal
Masih sangat berpotensi berbuah
Serangan Sedang
- Daun rusak 30–50%
- Pucuk sedikit rusak
- Pertumbuhan melambat
Masih bisa berbuah, tapi ukuran tongkol bisa mengecil
Serangan Parah
- Daun habis atau sobek berat
- Pucuk rusak atau mati
- Tanaman kerdil dan pucat
Inilah kondisi kritis yang sering ditanyakan petani
Apakah Jagung yang Terserang Ulat Parah Masih Bisa Berbuah?
Jawaban ilmiahnya: tergantung tingkat kerusakan titik tumbuh
dan fase tanaman.
Menurut buku fisiologi tanaman jagung (IPB & Universitas
Brawijaya):
- Jika titik tumbuh rusak total sebelum umur 40 HST,
peluang berbuah sangat
kecil
- Jika kerusakan terjadi setelah calon tongkol terbentuk, masih ada peluang panen meski hasil turun
Belum ada data ilmiah yang
pasti mengenai persentase pasti jagung yang selamat pada kondisi ekstrem,
namun berdasarkan pengamatan lapangan Balitbangtan, sebagian tanaman masih
mampu menghasilkan tongkol kecil jika pucuk tidak mati total.
Faktor Penentu Jagung Masih Bisa Berbuah atau Tidak
Beberapa faktor kunci:
- Umur tanaman saat terserang
- Kondisi titik tumbuh
- Tingkat kehilangan daun
- Ketersediaan nutrisi (terutama nitrogen & kalium)
- Kecepatan pengendalian ulat
Semakin cepat ulat dikendalikan, semakin besar peluang
jagung berbuah.
Ciri Jagung yang Masih Berpotensi Menghasilkan Tongkol
Jagung masih bisa diselamatkan jika:
- Pucuk masih hijau meski rusak
- Daun baru masih muncul
- Batang tidak patah atau busuk
- Tanaman tidak rebah
- Warna daun mulai pulih setelah pengendalian
Ciri Jagung yang Sudah Tidak Berpotensi Berbuah
Jagung biasanya tidak akan menghasilkan tongkol
jika:
- Titik tumbuh mati total
- Tanaman berhenti tumbuh
- Daun baru tidak muncul
- Batang keropos akibat penggerek
- Tanaman rebah dan membusuk
Dalam kondisi ini, mencabut tanaman sering lebih ekonomis.
Langkah yang Harus Dilakukan Jika Jagung Terserang Ulat Parah
Pengendalian Ulat Secara Cepat
Berdasarkan rekomendasi FAO dan Kementan RI:
- Gunakan insektisida sesuai bahan aktif yang
direkomendasikan
- Rotasi bahan aktif untuk mencegah resistensi
- Aplikasi fokus ke pucuk dan whorl
Pemulihan Tanaman
- Berikan pupuk nitrogen dosis ringan
- Tambahkan kalium (K) untuk memperkuat jaringan
- Jaga kelembapan tanah
Perkiraan Dampak Serangan Parah terhadap Hasil Panen
Menurut laporan FAO dan Balitbangtan:
- Serangan ringan: penurunan hasil ±10–20%
- Serangan sedang: penurunan hasil ±30–50%
- Serangan parah: bisa mencapai 60–100% kehilangan hasil
Cara Mencegah Serangan Ulat Parah pada Tanaman Jagung
Langkah pencegahan efektif:
- Tanam serempak
- Monitoring sejak umur 7 HST
- Pengendalian dini
- Pemupukan seimbang
- Pengelolaan gulma
Kesalahan Umum Petani Jagung
Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
- Terlambat menyemprot
- Dosis insektisida berlebihan
- Tidak mengganti bahan aktif
- Fokus pupuk tapi hama dibiarkan
FAQ Seputar Jagung dan Serangan Ulat
Apakah perlu mencabut tanaman parah?
Jika titik tumbuh mati dan tanaman tidak tumbuh lagi, iya, lebih
baik dicabut.
Kapan waktu terbaik pengendalian ulat?
Saat ulat masih kecil (instar awal), biasanya umur jagung
7–21 HST.
Apakah pemupukan bisa menyelamatkan jagung?
Pemupukan tidak bisa menggantikan titik tumbuh yang mati,
tapi bisa membantu pemulihan tanaman yang masih hidup.
Kesimpulan
Tanaman jagung yang terserang ulat parah masih bisa berbuah,
tapi hanya jika titik tumbuh belum rusak total dan pengendalian dilakukan
cepat.
Pemantauan rutin, pengendalian dini, dan pemupukan seimbang
adalah kunci utama menyelamatkan hasil panen.

EmoticonEmoticon